Translate

Sabtu, 17 Agustus 2013

ANTARA AKU, KAMU, DAN HUJAN



Pelajaran hari ini sangat membosankan. Tak hanya pelajaran, namun juga teman-teman kuliah yang sepertinya hari ini mereka semua berjanji untuk membuat hatiku begitu capai. Tak seperti biasanya, perasaan yang aku rasakan hari ini adalah kejenuhan yang telah mencapai titik tertinggi. Dan anehnya hari ini berlalu begitu lama. Seakan aku terpenjara di ruangan vakum selama berabad-abad. Begitu menyesakkan hati. Entah apa yang terjadi dengan diriku hari ini. Rasanya semua begitu menyiksa.
Akhirnya waktu yang aku tunggu pun tiba. Kuliah hari ini selesai juga. Dan waktunya aku untuk pulang. Waktu dimana aku akan membebaskan diriku dari sekapan rasa jenuh. Kulangkahkan kaki ini berjalan keluar dari penjara tak terlihat ini. Namun, betapa sialnya aku hari ini. Ternyata siksaanku tak berhenti di sini. Betapa tidak, hujan deras segera turun menghajar bumi yang kering. Dan mau tidak mau, aku harus sejenak berhenti dan berdiri seperti orang bodoh. Seperti Si Pitung sedang tertangkap Belanda. Tak ada yang bisa aku lakukan di lantai tiga ini. Hanya bisa menatap kosong tiap butir air yang jatuh. Sambil mendengarkan ribuan kata keluar dari mulut-mulut liar temanku. Dan ini semakin membuatku merasa jenuh. Sangat jenuh. Mungkin jika ada kantin di dekatku, aku akan menghabiskan seluruh makanan yang ada.
Detik demi detik aku lalui dengan hanya menatap setiap hujan yang turun sambil bersandar di dinding. Sementara teman-temanku sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Ada yang asyik dengan sosial network-nya, ada yang sibuk dengan laptop dan tugas kuliahnya, ada juga yang sibuk gebetan mereka masing-masing. Dan yang terakhir inilah yang membuatku sejenak berpikir. Yang secara tiba-tiba menuntunku untuk mendekatkan wajahku pada ribuan air yang jatuh dari langit. Terpikir olehku akan masa-masa empat tahun yang lalu, waktu dimana aku masih duduk di bangku SMA. Masa yang begitu indah. Kenangan yang indah sekali. Dan kenangan itu terjadi ketika keadaan seperti ini. Saat hujan turun. Dulu saat aku SMA, sering sekali aku pulang terakhir. Biasanya setelah pelajaran selesai aku langsung ke masjid, sekedar untuk membaringkan raga ini. Kadang juga bercanda dengan teman-teman dan guru agama kami. Tapi hari itu cuaca sedikit tak bersahabat. Ketika aku sedang sibuk dengan candaanku, tiba-tiba hujan turun. Cukup deras dan cukup lama. Namun, aku juga mulai bosan dengan candaan ini. Aku keluar meninggalkan mereka, dengan alasan aku mau memarkir motorku dengan benar, agar tak kehujanan. Padahal, sebenarnya motorku sudah tertata dengan baik. Aku berjalan keluar. Merayap-rayap di tepian gedung. Bukan tempat parkir yang aku tuju, melainkan perpustakaan. Sambil berdoa agar petugasnya masih menata buku, sehingga aku bisa melihat kecantikan parasnya. Iya, petugas perpus kami yang baru adalah dua wanita muda yang cantik jelita. Tak dapat dipungkiri, semua murid lelaki di sekolah ini sangat senang ketika melihatnya. Bahkan guru kami pun juga ada yang naksir. Yah wajarlah. Manusiawi bukan? Namun rupanya aku tak beruntung hari ini. Mereka rupanya telah pulang. Perpus sudah tutup. Aku lanjutkan langkah kakiku. Menyusuri ruangan demi ruangan. Hingga aku terhenti pada salah satu ruang kelas. Ruang kelas sepuluh. Kulihat di dalam ruangan ada seorang murid perempuan. Ia duduk sendiri di dekat pintu sambil menatap air yang turun dengan penuh kebahagiaan di matanya. Perempuan yang cantik dan tak asing bagiku. Dia adalah Devi. Teman sekelasku. Tapi, kenapa dia ada di ruang kelas sepuluh? Padahal kami sudah kelas sebelas. Lebih baik aku tanya dia. Aku dekati dan kusapa dia. “Hay.. ngapain kamu sendirian di sini? Kok tidak pulang?” Dia rupanya cukup kaget dengan kehadiran dan pertanyaan yang aku layangkan padanya. Dengan wajah dan mata yang masih terkejut ia memberikan jawaban kepadaku. Dan yang tak ketinggalan adalah senyuman manis yang selalu menghiasi bibir kecinya. “Oh… kamu. Belum, masih nunggu hujannya berhenti, soalnya tadi rapat OSIS dulu. Dan yang lebih sial lupa tadi tidak membawa jas hujan. Kamu sendiri ngapain kok belum pulang juga? Nunggu hujan reda juga?” Aku seakan tak sanggup lagi untuk berkata sepatah katapun. Entah kenapa jantung ini berdebar lebih kencang. Aku gugup sekali. Kata-kata yang dia ucapkan begitu lembut dan menawan. Ditambah senyuman yang mempesona. Sungguh dia adalah pemandangan terindah di hatiku. “Wah… ditanya kok malah diam dan terpaku seperti patung sih?”. Lagi, tutur kata yang menawan dan senyuman manis itu kembali mempesonakan aku. Namun, kali ini menyadarkanku. Aku tersadar bahwa aku sedang berbicara dengannya. Dengan gugup aku menjawab pertanyaan darinya. “Oh… anu… tadi aku istirahat di masjid dulu, eh mau pulang kok malah hujan. Jadi ya sama dengan kamu, nunggu hujan berhenti juga jadinya.” Aku pun tak lupa membalas senyumnya dengan senyuman yang penuh rasa malu dariku. “Oh… begitu…” Belum sempat ia meneruskan perkataannya, aku kembali melontarkan pertanyaan untuknya. “Kok sendirian? Mana temen-temen OSIS-nya?” Cukup kaget dia dengan gelontoran pertanyaan yang aku tujukan untuknya. Entah apa yang ada dipikirannya ketika itu. “Iya, itu temen-temen ngobrol di ruang OSIS. Rapatnya kan sudah selesai barusan, jadi aku keluar dan duduk di sini. Menikmati hujan sendiri.” Kembali, sesuatu yang mempesona itu keluar dari dirinya. Senyuman manis dibalik bibir mungilnya. Dan senyuman itulah yang membuatku semakin tertarik untuk ngobrol dengannya.
“Wah… kalau begitu aku mengganggu kenikmatanmu bersama hujan ya?”
“Oh… tidak kok, tidak sama sekali. Justru aku sangat senang jika ada yang mau aku ajak ngobrol sambil menikmati hujan.”
“Sepertinya kamu sangat menyukai hujan ya?” Rupanya kali ini dia cukup kaget dengan pertanyaan yang aku katakana.
“Oh... tidak juga.” Kali ini kata-kata yang dia keluarkan terasa hambar. Tak ada notasi dan senyuman yang indah itu.
“Aku sebenarnya sangat kesal ketika hujan turun. Rasanya hujan begitu jahat. Semua aktivitas manusia seakan gagal total karena hujan. Contoh mudahnya adalah kita ini, kita gagal pulang karena hujan. Iya kan? Hujan itu jahat.”
Dia hanya tersenyum manis ketika aku mencurahkan pendapatku tentang hujan. Kemudian dia dengan penuh cahaya kebahagiaan menatapku lantas berkata. “Hujan itu tidak jahat. Hujan itu menyenangkan. Aku suka hujan. Ketika hujan turun, aku merasa sepertinya aku berada di dalam pelukan cinta kedua orang tuaku. Begitu nyaman dan menenangkan. Sama seperti hujan ini.”
Lagi, rasanya aku kembali terbujur kaku ketika mendengar untaian kata darinya. Sama seperti saat pertama aku menyapanya di sini. “Hujan itu menyenangkan. Begitu nyaman dan menenangkan.” Ia memang benar. Hujan itu menyenangkan, sama seperti dirimu begitu menyenangkan dan menenangkan. Dan setidaknya aku harus berterimakasih kepada hujan. karena hujanlah aku bisa berduaan bersamamu hari ini. Ujarku dalam hati. Tak lama lamunanku terceraikan oleh sapaan halus darinya.
“Loh… kenapa? Kok bengong lagi? Wah… nggak beres nih kamu…” Sambil tersenyum dia menatapku seakan mencari-cari tanggapanku atas pernyataannya.
Kembali aku tersadar dari kekagumanku terhadapnya. “Tidak… tidak apa-apa kok.” Aku menutup mata dan menarik nafas dalam-dalam untuk mencoba menghilangkan rasa gugupku yang selalu datang kala dia berkata dan menatapku. Tak lama ku buka mataku, sambil membalas senyumnya aku katakana kepadanya. “Memang sih hujan itu kadang bikin kita tenang, damai, dan juga kadang membuat kita merasa begitu menyenangkan. Seperti halnya padaku saat ini.” Dia menatapku dengan penuh rasa kaget. Tajam dia menatapku. Tatapan yang berniat mencari maksud perkataanku sampai jauh ke dalam otakku.
Akupun juga cukup kaget dengan tatapan yang dia berikan kepadaku. Apa mungkin ada yang salah dengan ucapanku? Sejenak aku berpikir keras sambil tidak melepaskan tatapan yang sama darinya. Aku merenungkan kembali kata-kataku, dan mencari-cari bagian mana yang salah. Hingga secara spontan dan penuh rasa kaget aku berkata,”Eh… maksudku anu… eehmm… maksudku saat ini walaupun, hujan kita kan masih bisa merasa senang. Iya kan?” Devi hanya tersenyum melihatku berkata dengan terbata-bata. Berbeda dengan sebelumnya, senyumannya kali ini sangat manis dan sangat mendamaikan. Sungguh dia adalah bidadari yang Tuhan turunkan untukku, setidaknya untuk hari ini. Akupun ikut tersenyum. Dan akhirnya kami tertawa lepas. Diiringi gemericik air yang turun. Sungguh sore itu adalah sore yang tak pernah aku bayangkan.
Akhirnya keceriaan kami terpecahkan oleh suara yang tiba-tiba muncul dari ruangan kecil di sebelah barat sana. “Cieee… ada yang pacaran nih…??” Suara mereka berdua serempak, dan dengan penuh tawa. Ternyata Rahayu dan Tyas. Mereka berdua adalah teman seangkatan dengan kami. Dan mereka juga sahabat dekat Devi, dan sama-sama pengurus OSIS. Keceriaan kami hilang seketika. Kami sangat kaget dengan kedatangan mereka.
“Eh ayo Yu, kita tinggalin mereka, entar kita ganggu mereka.”
“Iya… entar kita dikira tukang ganggu lagi.”
Mereka tertawa terbahak-bahak sambil berjalan meninggalkan kami. “Bye pasangan baru…!!” Ucap mereka kompak dengan penuh tawa diikuti lambaian tangan yang seakan memberi restu kepada kami.
Aku dan Devi masih diam dan hanya bisa tersenyum kecil melihat tingkah mereka. Tapi Devi memecah kebingungan kami.
“Ah… apa-apaan sih mereka? Ada-ada saja.”
“Kenapa sih? Biarin saja mereka. Yang penting mereka senang. Iya kan?” Sambil tertawa aku mencoba membela Rahayu dan Tyas.
“Ya bukannya begitu sih... memang tidak apa-apa. Tapi nanti kalau gebetan kamu ngeliat kan bahaya. Bisa terjadi perang dunia ketiga.” Senyuman itu tak pernah ia lupakan.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala dan tertawa lebar mendengar kata-kata Devi. “Wah-wah… kamu ini apa-apaan sih? Teman dekat cewek saja nggak punya, apalagi gebetan. Wah… kamu ini yang bahaya.”
“Loh… kok malah nyerang aku juga sih? Apanya yang bahaya coba? Awas ya kamu!” Kali ini senyuman itu tak tampak. Wajah yang cemberut ia berikan kali ini. Dan lagi, aku hanya bisa tertawa riang melihat kelakuannya. Dia memang sangat lucu dan mempesona. “Bukannya aku nyerang kamu, tapi kan bahaya juga kalau pacar kamu yang itu tahu hal ini.” Kubalas wajah murungnya dengan senyuman kecil dariku.
Pacar. Iya, pacar. Aku setiap hari melihat Devi selalu berboncengan dengan seorang laki-laki. Saat ia pulang dan berangkat sekolah. Mereka terlihat seperti itu sejak dari kelas satu dulu. Dan sampai sekarang mereka masih seperti itu. Belakangan aku ketahui lelaki itu bernama Iman. Dia adalah murid kelas dua juga, teman kami juga. Satu angkatan.
“Hah… pacar? Siapa?” Kali ini dia seperti melihat kuntilanak yang wajahnya baru saja terkena siraman air keras. Devi begitu kaget dan tercengang. Akupun segera membangun pertahanan, sehingga ketika dia melepaskan kekuatan supernya, aku sudah siap dengan bentengku. Namun, sambil tersenyum palsu aku mencoba menjelaskan perkataanku yang tadi. “Ehm… maksudku yang setiap hari bersama kamu itu. Iman. Iya, Iman. Dia gebetan kamu kan? Hayyo ngaku?”
Aku harap-harap cemas dengan jawaban apa yang akan ia berikan kepadaku. Namun, kembali senyum manis itu mempesonakan aku. Menenangkan sekali melihat senyuman itu. “Iman. Dia kelas dua juga kok, sama seperti kita. Dan yang perlu kamu ketahui adalah bahwa dia itu sepupuku. Rumahnya saja dekat denganku, dan pacarnya adalah temanku SMP. Jadi kamu jangan membuat gossip. Aku  sama kayak kamu kok. Teman dekat cowok saja nggak punya, apalagi pacar. Eh… tapi awas ya kamu kalau coba-coba membuat gossip lagi.” Walaupun ia telah berhenti bicara, tapi ia masih tertawa kecil. Mungkin ia menertawakan ucapanku tadi, yang mengira kalau dia dan Iman pacaran. Akupun juga semakin salah tingkah. Mungkin lebih tepatnya bukan salah tingkah, tetapi malu dan khawatir. Khawatir kalau nanti image-ku berubah menjadi orang yang suka gossip. Tapi kucoba untuk tetap bersikap tenang dan seolah tak terjadi apa-apa. “Oh… ternyata dia sepupu kamu… aku kira pacar. Jadi malu aku.” Kami berdua tertawa terbahak-bahak. Dalam hati akupun merasa bahagia sekali. Bagaimana tidak, aku masih punya peluang besar untuk mendapatkannya.
Sepotong kata dariku membuat tawa kami terhenti. “Menurutku cinta itu seperti hujan. Tanpa kita mencari, pasti akan datang sendiri jika waktunya tiba.”
Dia terlihat berpikir mencerna ucapanku. Atau bahkan ia mencari kata-kata yang indah untuk membalas pernyataanku. Lagi, senyuman mempesona itu kembali ia tunjukkan padaku. “Cinta itu seperti hujan. Kadang hujan membawa kita kepada kesedihan, namun kadang juga membawa kita kepada kebahagiaan dan ketenangan.”
“Cinta itu seperti hujan. Membasahi tanah yang kering. Tanah yang gersang.” Belum sempat aku berpikir mencari kata-kata untuk membalas ungkapan darinya, namun ia kembali melontarkan kata-kata indahnya kepadaku. Wah aku kalah selangkah nih dari dia. Bisikku dalam hati.
“Cinta itu ibarat secangkir kopi. Akan terasa nikmat jika masih panas, namun resikonya cepat habis. Tetapi jika kita minum sedikit demi sedikit akan tahan lama, namun keburu dingin. Memang cinta itu membuat kita bingung. Sama seperti kita saat terjebak hujan.”
Dia tiba-tiba tertawa lebar mendengar kata-kata dariku. Dan akupun juga semakin bingung. Apa yang terjadi? Namun, kuikuti saja dia dengan tawa kecil dari bibirku.
“Kok kamu tertawa sih? Lucukah? Atau ada yang salah?” Aku tak dapat menyembunyikan rasa penasaranku terhadap tawa yang ia berikan.
“Oh… nggak kok. Nggak ada yang salah. Aku hanya kagum saja dengan kamu. Ternyata kamu puitis juga ya? Dan semua kata-kata tentang cinta yang kamu ucapkan tadi, terus terang aku sangat setuju dan menyukainya.” Senyuman yang lain ia tunjukkan kali ini. Senyuman yang sangat mempesona. Senyuman yang sangat tulus dan teristimewa dari hati. Setidaknya itulah yang dapat aku tafsirkan dari senyumannya kali ini. Dan aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya membalas senyuman yang ia berikan sambil garuk-garuk kepala seolah mencari kutu yang membuat aku kembali salah tingkah.
Senyuman kami terhenti, seiring berhentinya hujan. Dan akhirnya kami harus berpisah. Kami harus pulang. Tukar senyuman. Iya, itulah yang menjadi akhir dari romansa semu kami hari ini. Dan hujan adalah pahlawanku hari ini. Aku berjalan menuju ke masjid untuk mengambil tasku. Sementara Devi menuju ruang OSIS mengambil barang-barangnya. Kami memang saling membelakangi saat kami meninggalkan ruang kelas itu, namun aku merasa bahwa aku dan dia berjalan bersama, saling berdampingan. Sungguh hari ini adalah hari terindahku. Dan aku harap ini akan berlanjut sampai akhir hayat nanti. Doaku dalam hati.
Memang, cinta itu seperti hujan. Akan datang kepada kita di waktu yang tepat. Ketika waktunya sudah tiba. Dan ia tak hanya sekedar menjatuhkan air dari langit, namun ia juga membawa dua hal: kebahagiaan dan kesedihan. Kebahagiaan karena ia begitu menenangkan dan menyirami tanah yang gersang. Kesedihan karena ia membawa kita kepada kebingungan dan perbuatan serba salah. Namun, anehnya kita akan merasa linglung jika kesedihan itu tak menyertai cinta kita. Iya, inilah cinta. Tak dapat kita pikirkan secara logis, namun dapat kita rasakan kenikmatannya. Layaknya air yang turun dari langit: tak dapat kita pegang, namun bisa kita rasakan bagaimana ia menusuk kulit kita.
Salah satu teman kuliahku menepuk bahuku, dan menyadarkanku bahwa hujan telah reda. Tanda saatnya untuk pulang. Tak terasa bahwa tanganku sedari tadi menengadah ke langit. Dan telah basah oleh air hujan.
Layaknya air yang turun dari langit. Seperti itulah kisah cinta ini. Antara aku dan dia. Entah kapan ini akan berakhir. Karena semuanya akan berakhir jika saatnya telah tiba. Dan akhir dari sesuatu adalah awal dari sesuatu yang lain. Percayalah semua akan indah pada waktunya. Lihatlah hujan.

BEK130592

Jumat, 16 Agustus 2013

PUISIKU, BUKAN UNTUK DIA…!!!



Sore ini masih seperti sore sebelumnya. Gerombolan kelelawar yang terbang hendak mencari makan, langit barat yang menampakkan cahaya merah, dan udara peralihan dari panas ke dingin yang sedikit mengagetkan kulit. Namun, aku tak sama dengan sore. Hari ini aku melakukan sesuatu hal yang tak biasa aku lakukan di setiap sore sebelumnya. Aku ingin mengitari kota ini. Menyusuri sendirian indahnya jalanan kota ditemani cahaya terang sang mega merah. Memang besok bukanlah akhir pekan. Besok juga bukan hari libur untuk kuliahku. Namun, setidaknya aku bisa sedikit bersantai malam ini. Karena semua tugas kuliah yang biasanya selalu menjadi teman kencanku, hari ini telah aku selesaikan semuanya. Tak ada yang tersisa. Jadi, secara otomatis sore ini adalah waktu di mana aku melampiaskan rasa kesalku terhadap tugas kuliah, dengan cara menikmati jalanan kota di tengah pekan. Tak ada yang menemaniku. Memang aku sengaja pergi sendiri.
Tak ada yang menarik. Masih sama seperti biasa. Baik akhir pekan maupun tengah pekan, ternyata sama saja. Jalan di kota ini selalu saja ramai. Semua orang dari semua lapisan dan golongan masyarakat melintasi jalanan kota ini. Mereka saling berinteraksi dengan klakson dan asap kendaraan mereka. Penuh sesak mata memandang. Walaupun sebenarnya aku tak merasakan kesesakan itu. Tak ada yang istimewa maupun yang mengejutkan sore ini. Namun, aku juga tak tahu rasanya sore ini adalah hari yang istimewa bagiku. Entah karena aku sudah terbebas dari penjara tugas kuliah atau karena fenomena langka: jalan-jalan santai mengelilingi kota di tengah pekan. Iya, bagiku jalan-jalan santai di tengah pekan adalah fenomena langka dan layak masuk rekor MURI, karena semenjak aku datang dan aktif masuk kuliah di kota ini, tak pernah sekalipun aku merasakan nikmatnya jalan-jalan santai di tengah pekan.
Aku masih berjalan. Ku ikuti ke mana kaki ini melangkahkan tulangnya. Cahaya langit sore yang semakin memerah nan gelap, kendaraan yang saling berlomba membunyikan klakson, serta kelelawar yang sudah tak nampak lagi adalah teman dan saksi bisu perjalanan dan kebahagiaan jiwa ragaku sore ini. Sudah tak mampu lagi aku menahan jiwa dan ragaku untuk melangkah menuju tujuan yang mereka cari.
Hingga aku melihat sesuatu yang memaksa langkahku berhenti. Sesuatu yang semakin membuat kebahagiaan sore ini semakin menarik. Aku melihat seorang wanita seumuran denganku. Dia duduk di depan toko buku. Seratus meter dari tempat di mana aku berdiri sekarang. Sejenak aku pandangi ia dari tempatku. Ia pun masih asyik dengan lembaran buku di tangannya. Indera ini sepertinya tak mau dibohongi. Sepertinya aku tak asing dengan wanita itu. Rasanya aku sudah kenal dekat dengannya. Aku berjalan pelan, aku dekati dia. Ternyata benar. Dia adalah Devi. Teman satu SMA saya. Memang kami tak pacaran baik sekarang maupun dulu. Namun, dia adalah orang istimewa. Wanita yang selalu mendapat tempat teristimewa. Setidaknya di hatiku. Iya, aku akui aku memang dekat dengannya. Aku hampiri dan aku sapa dia.
“Devi…kamu masih lucu nan menarik ya!!” Spontan aku mengeluarkan kata-kata yang tak pernah kurancang sebelumnya. Aku pun sedikit malu menyadari apa yang telah aku ucapkan.
“Hai…terimakasih.. Bagaimana kabar kamu?” Dengan sedikit kaget dia balik bertanya kepadaku. Disertai dengan suatu hal yang tak pernah ia lalaikan. Senyuman indah yang keluar dari bibir kecil nan tipis itu. Senyuman yang selalu aku rindukan di setiap waktu.
“Baik. Kamu bagaimana?” Aku mengambil posisi duduk di sebelah kanan Devi. Sambil aku perhatikan buku yang ia baca. Buku kumpulan motivasi ternyata.
“Baik.” Jawab Devi singkat. Sepertinya dia masih agak kaget dan tak percaya.
Wajar saja. Sudah hampir satu tahun sejak lebaran tahun kemarin, kami belum pernah bertemu secara langsung. Dan ini juga pertemuan pertama kami di kota ini. Walaupun sudah satu tahun lebih kami kuliah di kota yang sama, kami tak pernah bertemu. Maklum, kampus kami berjauhan. Sangat jauh. Sama seperti keadaan hati kami sekarang. Meskipun dulu kami pernah dekat. Sangat dekat. Cukup lama kami hanya terdiam sambil melempar senyuman satu sama lain. Entah apa yang ia pikirkan. Dan akupun juga tak tahu dengan apa yang aku pikirkan. Hening. Walau sebenarnya suara kendaraan tak henti menyambar telinga kami berdua. Aku beranikan untuk memecah keheningan ini.
“Kamu kenapa ada di sini? Tak kusangka kita bisa bertemu di tepi jalan seperti ini.” Dalam hati aku masih bingung mencerna kata-kata yang baru saja aku lontarkan.
“Oh.. Tidak ada apa-apa. Hanya kebetulan saja aku di sini. Besok aku tidak ada kuliah, jadi hari ini aku keliling kota sambil mencari buku ini. Dan ternyata toko ini yang punya.” Devi tersenyum sambil menunjukkan buku yang ia beli di toko itu. Buku kumpulan motivasi dari para motivator se-Indonesia. Dan tak sengaja aku lihat motor yang sejak setahun lalu menemani Devi terparkir di halaman toko.
“Memang motivator yang ada di buku itu orang hebat semua. Namun, kalau menurutku hanya ada satu motivator yang paling hebat di dunia ini. Yaitu diri kita sendiri.”
“Benar. Aku sangat setuju dengan pendapatmu. Tuhan tak akan merubah nasib kita, jika kita tak mengubahnya sendiri. Benarkan?”
“Tepat sekali.” Jawabku singkat sambil aku lontarkan senyuman kepadanya.
“Namun, segala sesuatu itu terdiri dari dua faktor. Internal dan eksternal. Tak terkecuali motivasi. Motivasi bisa kita dapatkan dari diri kita sendiri. Dan bisa juga kita dapatkan dari sekitar kita, semisal dari buku ini.” Aku terkesima dengan pernyataan Devi. Pernyataan yang diplomatis yang diiringi senyuman menawan. Semakin menginterpretasikan bahwa dia adalah salah satu wanita sempurna.
Sejenak aku terdiam. Aku berpikir: pertanyaan atau pernyataan apa yang harus aku keluarkan? Atau aku balas saja dengan senyuman? Belum aku mendapat jawaban dari pertanyaan itu, inderaku sudah menangkap suara yang kembali ia lemparkan.
“Ngomong-ngomong kamu sendiri kok bisa ada di sini?”
“Tidak. Aku tadi hanya jalan-jalan saja. Cari inspirasi untuk menulis puisi baru.” Aku tersenyum sambil aku tunjukkan blocnote yang sejak tadi menghuni saku jaket.
“Oh.. Sudah dapat inspirasinya?”
“Sebenarnya inspirasi tak usah dicari. Ia akan datang sendiri ketika kita menulis. Hanya butuh momen yang tepat saja.”
“Selalu. Orang yang suka menulis, selalu sok puitis dalam bicara.” Kami tertawa tebahak-bahak. Entah siapa yang lebih dulu memulai tertawa.
“Sebenarnya aku mau membuat puisi ucapan ulang tahun untuk seseorang. Namun, aku tak mengerti, rasanya hati dan logika ini tak mau diajak menulis. Inspirasi dan imajinasi seakan pergi mengembara meninggalkan jiwa raga ini.”
“Wah mulai lagi sok puitis.” Tawa kembali pecah di antara kami. “Ehm.. Sebenarnya kamu membuat puisi untuk siapa? Pacar kamu?” Devi meneruskan perkataannya.
“Bukan. Untuk orang yang begitu berharga bagiku. Motivator ulung bagi jiwa raga ini.”
“Oh.. Kamu belikan saja ia barang atau sesuatu yang mungkin ia sangat sukai.”
“Tidak. Aku tak ingin membelikannya barang. Aku ingin memberinya hadiah berupa karya. Karya dari hati. Dan nuraniku mengatakan puisi adalah hadiah yang paling tepat.”
“Wah.. sungguh beruntungnya orang itu.” Kami sama-sama tersenyum.
“Tapi ngomong-nomong, apakah kamu mau membantuku? Membuatkan puisi sebagai hadiah ulang tahunnya?”
“Lho! Kenapa harus aku? Kan lebih baik kamu sendiri yang membuatnya. Hadiah dari hati. Dari hatimu sendiri.”
“Memang benar. Tetapi, hatiku sepertinya tak mau membantuku hari ini. Aku harap hatimu mau membantuku.”
“Aku kan tidak tahu mengenai orang itu.”
Aku tak bereaksi. Heningpun tercipta untuk kedua kalinya. Kami sama-sama diam dan seolah-olah saling berpikir menemukan solusi.
“Atau begini saja. Di dalam buku ini ada beberapa puisi yang menurutku sangat indah dan saya rasa cukup tepat jika diberikan kepada orang yang istimewa. Bagaimana jika kamu mencontoh dari buku ini saja. Lagipula menurutku puisi ini juga dibuat dengan hati yang terdalam.” Devi melanjutkan perkataannya dengan memberikan solusi dan saran kepadaku.
“Baiklah. Cukup menarik saranmu. Kalau begitu kamu yang menulisnya ya?” Aku menyodorkan blocnote beserta pulpen yang sejak tadi aku genggam kepada dia.
“Lho! Kenapa aku?” Devi kaget. Dan aku hanya tersenyum. Namun, senyuman kali ini adalah senyuman paksaan agar dia mau menuliskan puisi itu.
“Kamu ini aneh ya! Tadi kamu bilang kamu ingin memberi hadiah puisi kepada seseorang, namun justru aku yang kau suruh menuliskan puisinya.”
“Tidak apa-apa. Apakah kamu tak ingin membantuku? Hanya sekedar menyalin puisi.”
“Bukannya begitu. Tetapi, akan lebih sempurna jika kau sendiri yang menulisnya. Atau malah puisi itu kamu sendiri yang membuatnya.”
Sepertinya Devi memang benar-benar tak mau menuliskan puisi itu. Aku tak tahu, apa alasan yang memenjarakan dirinya sehingga tak mau membantuku. Apakah dia ingin aku membuat karya sendiri untuk hadiah puisi itu atau dia memang tak mau terlibat dengan kebahagiaan yang baru saja aku peroleh, walau hanya kebahagiaan semu. Aku tak mau berspekulasi. Yang aku tahu, dia bukanlah orang yang tak mau menolong sesama, namun dia adalah orang yang selalu memberikan pelajaran secara tersirat maupun tersurat kepada lawan bicaranya.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan menulis sendiri puisi itu. Puisi dari hatiku sendiri. Kamu tahu, siapa penerima puisi itu? Orang yang kamu sebut beruntung tadi adalah aku sendiri. Puisi itu akan kuberikan kepada diriku sendiri. Dari aku dan untuk aku.”
“Apa maksutmu? Aku tak mengerti. Jangan sok puitis kamu!” Kali ini dia sangat serius. Bahkan dari tatap matanya, bisa aku simpulkan kalau dia agak jengkel atau bahkan marah dengan kalimatku tadi.
“Besok adalah hari ulang tahunku. Aku melakukan perjalanan ini hanya untuk mencari inspirasi baru demi sebuah hadiah untuk aku sendiri. Namun, hati dan logikaku sepertinya menjauh. Mereka tak mau memberiku hadiah ulang tahun. Bahkan, orang yang selama ini cukup dekat dan istimewa di hatiku pun, juga tak mau memberiku hadiah. Walau itu hanya sebatas menuliskan puisi.”
Aku bangun dari tempat dudukku. Sambil tersenyum aku pandang Devi dengan tajam. Ia masih tak percaya dengan semuanya. Entah apa yang ia pikirkan. Sepertinya ia mau bicara, namun terhalang oleh tembok kokoh yang menghentikan kata-katanya.
“Semoga kita bisa berjumpa lagi. Sukses buat kamu.” Aku pergi dari tempat itu. Berjalan membelakangi pandangannya.
Lirih terdengar suara dari belakang. Mungkin itu suara Devi. Namun, aku tak mendengar pasti, suara itu melebur dengan jeritan kendaraan yang sejak tadi lalu lalang di jalanan ini. Akupun juga semakin tak mengerti. Dalam beberapa menit yang lalu aku merasakan kesenangan dan kenikmatan yang nyaris sempurna: jalan-jalan tengah pekan tanpa secuil tanggungan tugas kuliah dan bertemu dengan yang teristimewa. Namun, semua itu bertransformasi dengan cepat hanya dalam hitungan detik. Semua menjadi kepedihan dan kekecewaan. Baru aku menyadari, bahwa di dunia ini tak ada yang benar-benar sempurna dan semuanya serba sementara, tak ada yang mutlak maupun abadi. Semuanya hanya bayang semu. Layaknya dia: selalu mendapat tempat teristimewa di hati ini, namun tak mampu memberikan yang teristimewa pula untuk hati ini. Walaupun sudah aku pinta.
Hari ini memang tak aku dapatkan sebuah puisi dari hati yang teristimewa, untuk ulang tahunku besok. Tetapi, aku mendapat karya dari hati yang lain, yaitu dari hatiku. Iya, inilah hadiahku, inilah puisi dari hati. Semua ini adalah puisi dari hati. Puisi dari hatiku, bukan darinya. Puisi untuk aku, bukan untuk dia.

BEK130592

LAHIR & BATIN



Malam ini masih sama seperti malam sebelumnya. Terpaku di depan laptop mini, ditemani secangkir kopi yang tak pernah manis dan beberapa batang kretek yang masih enggan aku nyalakan. Dan yang tak pernah ketinggalan adalah lagu super mellow nan klasik. Entah apa alasannya, tapi lagu yang mellow-lah yang selalu memberi aku tambahan imajinasi yang inspiratif dalam mengisi waktu luang ini. Entah itu menulis fiksi maupun non-fiksi.
Mungkin bagi sebagian orang, kebiasaanku ini adalah perilaku orang kuper. Setiap malam hanya termenung di depan laptop, entah mengetik atau nonton film atau bahkan nge-game. Hingga puncaknya pada malam ini. Entah kenapa malam ini rasanya begitu membosankan nan melelahkan. Seperti terbang ke angkasa dengan parasut dan terjatuh di gunung yang tak pernah bisa kita daki. Terus aku cari, apa yang hilang pada malamku ini. Mungkinkah memang seharusnya aku mengikuti tradisi para muda-mudi pada umumnya, pergi keluar rumah atau dalam bahasa kerennya hang out bersama para cewek-cewek, entah itu pacarnya ataupun hanya “sewaan” semalam. Ataukah memang malam ini adalah malam di mana untuk pertama kalinya aku harus terpenjara dalam kesendirian yang tak pernah atau lebih tepatnya tak tahu kapan akan berakhir. Namun, aku bukanlah pecundang yang menyerah begitu saja pada kegelapan hati dan kegelapan cahaya lampu akibat pemadaman. Aku adalah orang yang selalu bermimpi dan berimajinasi. Walau banyak yang bilang mimpi itu adalah pembawa kekecewaan dan imajinasi itu adalah sahabat kegagalan. Karena imajinasi sangat jauh dari realita, dan hidup menurut mereka adalah realita. Namun jangan khawatir, karena aku adalah garda terdepan yang akan melawan teori itu. Aku adalah pemuja mimpi dan imajinasi. Hidup adalah rentetan mata rantai, dan rentetan mata rantai itu kita ukir dari mimpi. Jika kita tak bermimpi atau bahkan tak punya mimpi, kita masih bisa mempunyai mata rantai, namun kita tak bisa membuat mata rantai itu saling berhubungan satu sama lain. Karena mimpi adalah perekat untuk rentetan itu. Begitu pula imajinasi, bagaimana mungkin kita bisa berkarya jika kita tak punya imajinasi? Bahkan Einstein pun berpendapat bahwa “imajinasi itu tak terbatas, sedangkan ilmu pengetahuan itu terbatas”. Lalu masihkah kita membohongi diri bahwa imajinasi adalah mesin dalam berkarya? Imajinasi jauh lebih dalam dan luas dalam menuntun kita berkarya di kehidupan serba realistis ini.
Sebenarnya kita bisa menjadi seorang yang sukses, baik dalam status sosial maupun dalam status yang lainnya, tanpa harus mengutamakan mimpi dan imajinasi. Namun, saya sangat pesimistis bahwa kesuksesan itu juga membawamu mengenali dirimu sendiri. Mungkin ketika kamu sukses tanpa mimpi dan imajinasimu, itulah saat di mana kamu menjadi orang lain. Dan pertanyaannya, sampai kapan kau akan bertahan menjadi orang lain? Berapa lama? Sanggupkah engkau beserta orang terdekatmu melihatnya?
Sangat sulit untuk kita jawab. Dan mungkin jika saya yang harus dihadapkan pada pertanyaan itu, saya memilih lari dan rela dikatakan pecundang. Karena memang pertanyaan itu seperti pedang: tajam dan menyayat. Namun, aku selalu ingat akan sebuah peribahasa: mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Dan mungkin bagi kita atau setidaknya untuk aku sendiri, berjalan menempuh kehidupan yang sakit ini di atas rel mimpi dan imajinasi adalah pilihan yang jitu untuk mencapai kesuksesan yang hakiki, yakni kebahagiaan lahir batin. Atau jika tidak bisa mencapai kesuksesan itu, cukuplah tidak menjadi pesakitan di kehidupan ini. Lahir dan batin.

BEK130592

LALAI



Kuliah hari ini terasa begitu membosankan. Selain karena kondisi raga yang tidak begitu baik, juga karena ribuan tugas yang terus menghantui diri ini. Tak hanya tugas dari kelas, namun juga tugas yang mengejar lewat organisasi. Rasanya tugas tak akan pernah berhenti untuk mengejarku. Lain halnya dengan kedua tugas tadi, tugas dari rumah pun juga semakin menumpuk. Atau yang lebih ekstrem lagi adalah tugas dari hati. Tugas yang sebenarnya cukup mulia. Namun sayangnya tugas ini menjadi hina karena attitude negative yang dimiliki sebagian besar pengemban tugas atau justru pemilik hati itu sendiri. Jelas sekali bahwa tugas yang satu ini cukup mulia. Bagaimana tidak. Kita, khususnya saya sebagai lelaki, ditugaskan untuk mencari potongan tulang rusuk kita. Kita ditugaskan oleh hati untuk menjalankan ibadah dan sunnah Rasul yang cukup penting. Kita diharuskan untuk mencari tambatan hati. Dan kelak itu akan menjadi pendamping hidup kita hingga raga telah dikubur dan jiwa telah kembali kepada-NYA. Bukankah itu sangat mulia? Kita diberi tugas untuk mencukupi kebutuhan nafsu kita, namun itu bukanlah dosa melainkan ibadah dan pemenuhan amanat Tuhan dan Rasul.
Namun, masalahnya sekarang ini yang terjadi adalah sebuah pengkhianatan terhadap tugas mulia hati ini. Kita sebagai manusia yang mengklaim diri sebagai makhluk sempurna, sering sekali membelot dalam pemenuhan amanat ini. Manusialah yang menghancurkan tugas mulia ini. Mengapa demikian? Bukankah sudah jelas, bahwa kita memang diperintah untuk mencari tambatan hati. Namun, kita juga diperintahkan untuk meresmikan tambatan hati tersebut. Dalam bahasa sederhana, kita boleh bermesraan ataupun bergandengan dengan lawan jenis -yang biasanya itu kita sebut dengan pacaran- dengan catatan kita sudah meresmikan tambatan hati kita, atau dalam bahasa yang lebih sederhana menikah lebih dulu sebelum pacaran.
Memang kalau kita mengaku sebagai orang yang berpancasila dan beragama, seharusnya adalah seperti itu. Karena itulah ketentuannya. Namun, mayoritas manusia mengatakan bahwa itu adalah sebuah aturan yang tak logis dan tak sesuai perkembangan jaman. Marilah kita sama-sama berpikir: aturan religi yang mengatur kita atau jaman yang kita jadikan aturan? Yang jelas agama adalah tuntunan sempurna untuk kita menggapai kebahagiaan yang hakiki. Semua kembali kepada kita. Dan ingat segala pilihan ada konsekuensinya masing-masing. Semoga kita selalu memilih agama dalam segala tindakan.
BEK130592

PENIKMAT CERMIN



Wahai engkau si penikmat cermin,
Tetapkah engkau mendewakan cerminmu?
Akankah engkau membawa cermin hingga matimu?
Dan masihkah engkau bercermin?
Padahal engkau sangat memusuhi dusta,
Dan tahukah engkau, siapa pendusta itu?
Wahai penikmat cermin,
Sesungguhnya pendusta itu amat dekat denganmu,
Walau memang tak sedekat urat nadimu,
Namun pendusta itu teramat sering menjumpaimu,
Tak hanya menjumpai, namun kalian juga selalu bercumbu, kala bertemu
Entah engkau sadar atau tak sadar,
Senantiasa engkau di tipu oleh keindahannya.
Itulah dia, yang mengubah nyata menjadi maya,
Yang merubah depan menjadi belakang,
Dan yang membuat kanan menjadi kiri,
Ialah penipu, penipu bagi yang mencumbuinya,
Penipu yang tak pernah berdosa,
Dialah penipu sejati, wahai penikmat cermin.

BEK130592

GULALI ROMANSA “PART III”



Seperti biasa lajur aspal yang lurus penuh bebatuan telah menungguku pagi ini. Seakan tak mau kalah, motor yang biasa menemaniku menempuh jalanan yang terik, kini juga sudah siap untuk melaju menempuh jalanan yang hari ini berubah dari terik menjadi sedingin lemari es.
Walau udara hari ini berubah, namun tidak dengan pemandangan dan suasana jalanan. Jalanan masih penuh dengan ribuan aktivitasnya. Mulai dari pedagang sayur, tukang becak, pegawai negeri, direktur perusahaan, hingga anak sekolahan, mereka semua bersatu padu membentuk jalanan yang ramai, jalanan yang bising, dan jalanan yang hidup akan interaksi sosial. Walau interaksi itu hanya sebatas klakson dari kendaraan mereka masing-masing.
Lama aku larut dalam humaniora mesin di jalanan, hingga aku tak sadar bahwa tujuan telah menanti di depanku: sekolah yang setiap hari menjadi sarana belajarku sejak lulus SMP satu tahun yang lalu. Seperti biasa, nongkrong di tempat parkir kendaraan siswa, adalah ritual wajib yang aku dan teman-teman lakukan setiap pagi. Setiap hari. Namun, sejak dua hari terakhir ini, ritual pagi yang aku lakukan tak hanya sekedar nongkrong bersama teman-teman, tapi juga menanti seseorang. Seseorang yang tiba-tiba menjadi pencarian hati. Dialah sang pengobat kegalauan cinta: Devi. Nama yang terdengar begitu indah dan menawan. Selaras dengan parasnya yang cantik, senyuman yang manis menenangkan, dan keanggunan sikapnya. Sungguh, dialah pengobat jiwa yang paling tepat.
Tapi hari ini tak seperti hari sebelumnya. Biasanya aku selalu melihatnya di parkiran, dan kami hampir selalu bareng ketika menuju ke kelas, dan tentunya itu bersama teman-teman yang lainnya. Tapi, kemana dia hari ini? Kenapa aku tidak melihatnya? Padahal bel tanda masuk sudah berbunyi. Apakah dia terlambat? Ah, mungkin dia memang terlambat.
Hampir satu jam pelajaran telah usai. Namun, tanda-tanda kedatangan Devi pun tak kunjung aku dapatkan. Pikiran yang bertanya-tanya telah menggiring bola mataku bergerilya mencari-cari sesuatu yang aku sendiri tak tahu apa itu. Tiba-tiba fokus mataku beralih ke papan absen. Terlihat di sana tertera nama yang sejak tadi aku cari. Ternyata Devi tidak masuk hari ini. Kemana dia? Hanya keterangan ijin yang temukan di sana. Lalu ke mana dia? Bukankah tadi malam dia mengajakku bermain catur hari ini. Lalu kenapa dia justru tidak masuk hari ini? Mungkinkah dia membohongiku? Ataukah dia lupa akan janjinya? Tapi menurutku Devi bukanlah seorang yang dengan mudah melupakan janjinya. Mungkin hari ini memang dia ada keperluan yang sangat penting. Aku sms dia. Mungkin sms akan membantuku menemukan jawaban dari bermacam pertanyaan tentangnya yang bergelayut di otakku. Namun, itu hanyalah isapan jempol semata. Berjam-jam aku menanti balasan sms darinya, tapi tak ada satupun sms yang masuk dengan tulisan nama Devi.
Pikiran yang melayang mencari-cari si dia, telah membuatku tak nyaman dan tak fokus lagi dengan pelajaran hari ini. Entahlah! Aku juga tak tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Yang jelas hati ini sepertinya sudah terpatri pada seorang yang bernama Devi. Apakah ini hanyalah sebuah romansa semu? Ataukah ini sebuah kisah asmara sejati, yang akan terus berkesinambungan? Tuhanlah yang tahu, karena Dialah Sang Pencinta Sejati.

BEK130592

GULALI ROMANSA “PART II”



Pagi ini masih seperti biasa. Embun yang menenangkan, mentari yang mengintip di balik kabut. Seperti biasa dunia selalu menyapaku dengan penuh senyum, bukan karena dunia mencintaiku, melainkan dunia seakan menyuruhku dengan lantang agar bergegas pergi ke sekolah. Mencari ilmu yang katanya bisa menaikkan taraf hidup suatu kaum. Padahal realitanya banyak juga kaum berilmu tinggi yang jadi pengangguran. Namun, apapun itu asalkan kita berusaha dan berdoa, maka tak ada cita yang tak tergapai. Karena Tuhan akan membantu makhluknya yang ulet.
Lima belas menit sudah aku berada di atas mesin berjalan ini. Dan tak terasa aku telah sampai di tempat ini lagi. Tempat di mana aku setiap hari mencari ilmu, atau bahkan mencari cinta. hehehe. Kulihat ke segala sudut sekolah. Tak ada yang berubah, semua masih sama seperti sebelumnya. Namun, batinku mendeteksi ada yang jauh berbeda dari biasanya. Hari ini begitu berbeda, begitu menenangkan, dan begitu membahagiakan. Ada apa gerangan? Aku berpikir keras. Bukan untuk memecahkan soal Fisika tadi malam yang sulitnya tujuh turunan, atau menemukan sanggahan dari teori Evolusi Darwin, melainkan untuk menemukan perbedaan apa yang terjadi hari ini. Lama aku hanya terdiam di atas kuda besi yang terparkir.
“Hoeee... ngelamun aja loe!! Belum dimasakin tadi??” Aku terkejut dengan suara lantang temanku dari samping. Dan seketika juga suasana canda tawa tercipta di area parkir siswa yang setiap hari juga merupakan area nongkrong bagi kami. Tiba-tiba aku terbawa untuk mengikuti suara motor yang baru parkir. Kulihat teman-temanku masih enak bercanda. Namun aku tak mampu melepaskan pandanganku dari motor itu. Ternyata inilah yang membuat aku merasa berbeda hari ini. Merasa jauh lebih menyenangkan dari sebelumnya. Bukan karena motor yang baru datang, melainkan karena pengendara motor itulah. Iya, dia adalah Devi. Orang yang tadi malam tiba-tiba sms aku, dan yang secara bersamaan telah mengirimkan sinyal cinta pada hati. Entah itu ia sadari atau hanya akulah yang terhegemoni dari cinta itu sendiri. Namun, hatiku tak mau diajak kompromi. Seakan memberi perintah ke syaraf, hati ini mengajak mata ini untuk mencuri-curi pandang kepada Devi. Kuperhatikan dia. Hanya senyuman yang manis yang ia berikan. Entah apa yang ada dibenaknya. Terus kuperhatikan dia dengan sedikit tersenyum. Memang, ada sesuatu yang berbeda dari dia. Sesuatu yang aku rasa berbeda dan tak dapat aku temukan dalam diri setiap wanita selain dia.
Sesuai rencana, hari ini harus aku manfaatkan untuk mendekati dia. Hari-hari di sekolah adalah momen yang tepat. Namun saying, hari ini semua gagal. Aku tak mendapati ia di kelas. Padahal kami satu kelas. Setelah aku nguping sana-sini, aku baru tahu ternyata ia ada kegiatan dengan OSIS-nya. Pantas ia tak terlihat hari ini. Tak apalah hari ini aku tak mendapat kesempatan mendekatinya, masih ada hari esok. Lagipula nanti malam aku masih bisa sms dia. Santai sajalah. Kucoba menghibur diri.
Malam pun tiba. Rencana yang sudah aku siapkan, segera aku lakukan. Kalau jaman Perang Kemerdekaan, Belanda sering menyebutnya Agresi Militer, namun kalau sekarang ini aku menyebutnya Agresi Cinta. Kulirik jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah delapan, waktu yang ideal untuk bertanya tentang PR sekolah. Ku ambil HP yang kuletakkan di atas meja belajar. Aku kirim sms kepada Devi.
“Assalamu’alaikum.. Sedang apa? By the way besok ada PR apa?” Sebenarnya saya sudah tahu PR untuk besok, namun inilah yang dinamakan strategi pdkt.hehe. Dan rupanya ada respon, dia membalas sms-ku.
“Wassalamu’alaikum.. Sedang lihat TV ini, kamu sendiri sedang apa? Kalau masalah PR seharusnya aku tanya ke kamu lho..?? hehe.”
“Wah… bahaya ini, sekolah kok nggak tahu ada PR apa tidak...hehehe.”
“Malah ngatain… padahal dia sendiri juga nggak tahu.. hehe. By the way kok tumben nggak tahu PR-nya?”
“Hahaha… ya biasalah.. manusia kan lupa juga, hehehe.”
“Hemmm… kalau kamu sih lupanya kelewatan, ingat cuma sekali, lupa ratusan kali.. hahaha.”
“Wah… ngatain dia.. hehehe.”
“Hehehe… piss… btw sedang apa kamu?”
“Ini lagi main catur di komputer.. bikin bete saja, dari tadi kalah terus.”
“Hahaha… jadi ingin main catur juga aku.”
“Emang bisa?”
“Wah… ngenyek ini. Lawan aku berani nggak?”
“Hahaha siapa takut. Besok di sekolah gimana?”
“Oke.. siapa takut. Kamu yang bawa papan caturnya ya?”
“Wah.. kok gitu? Kamu saja dech..”
“Hehehe.. aku nggak punya, aku kalau main juga sama komputer, masak komputernya aku bawa ke sekolah? Hehehe.”
“Ya sudah.. tak usahakan besok.”
Cukup lama aku tunggu balasan sms darinya. Namun, itu ternyata hanya harapan tak berujung saja. Dia sudah tak membalas sms-ku. Ku coba untuk berpikir positif saja: mungkin dia ketiduran. Toh, setidaknya aku masih bisa janjian dengannya untuk bermain catur bersama besok. Dan ini adalah kesempatan emas yang berikutnya untuk mengenal ia lebih jauh alias PDKT. Hehehe.

BEK130592