Translate

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Agustus 2013

ANTARA AKU, KAMU, DAN HUJAN



Pelajaran hari ini sangat membosankan. Tak hanya pelajaran, namun juga teman-teman kuliah yang sepertinya hari ini mereka semua berjanji untuk membuat hatiku begitu capai. Tak seperti biasanya, perasaan yang aku rasakan hari ini adalah kejenuhan yang telah mencapai titik tertinggi. Dan anehnya hari ini berlalu begitu lama. Seakan aku terpenjara di ruangan vakum selama berabad-abad. Begitu menyesakkan hati. Entah apa yang terjadi dengan diriku hari ini. Rasanya semua begitu menyiksa.
Akhirnya waktu yang aku tunggu pun tiba. Kuliah hari ini selesai juga. Dan waktunya aku untuk pulang. Waktu dimana aku akan membebaskan diriku dari sekapan rasa jenuh. Kulangkahkan kaki ini berjalan keluar dari penjara tak terlihat ini. Namun, betapa sialnya aku hari ini. Ternyata siksaanku tak berhenti di sini. Betapa tidak, hujan deras segera turun menghajar bumi yang kering. Dan mau tidak mau, aku harus sejenak berhenti dan berdiri seperti orang bodoh. Seperti Si Pitung sedang tertangkap Belanda. Tak ada yang bisa aku lakukan di lantai tiga ini. Hanya bisa menatap kosong tiap butir air yang jatuh. Sambil mendengarkan ribuan kata keluar dari mulut-mulut liar temanku. Dan ini semakin membuatku merasa jenuh. Sangat jenuh. Mungkin jika ada kantin di dekatku, aku akan menghabiskan seluruh makanan yang ada.
Detik demi detik aku lalui dengan hanya menatap setiap hujan yang turun sambil bersandar di dinding. Sementara teman-temanku sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Ada yang asyik dengan sosial network-nya, ada yang sibuk dengan laptop dan tugas kuliahnya, ada juga yang sibuk gebetan mereka masing-masing. Dan yang terakhir inilah yang membuatku sejenak berpikir. Yang secara tiba-tiba menuntunku untuk mendekatkan wajahku pada ribuan air yang jatuh dari langit. Terpikir olehku akan masa-masa empat tahun yang lalu, waktu dimana aku masih duduk di bangku SMA. Masa yang begitu indah. Kenangan yang indah sekali. Dan kenangan itu terjadi ketika keadaan seperti ini. Saat hujan turun. Dulu saat aku SMA, sering sekali aku pulang terakhir. Biasanya setelah pelajaran selesai aku langsung ke masjid, sekedar untuk membaringkan raga ini. Kadang juga bercanda dengan teman-teman dan guru agama kami. Tapi hari itu cuaca sedikit tak bersahabat. Ketika aku sedang sibuk dengan candaanku, tiba-tiba hujan turun. Cukup deras dan cukup lama. Namun, aku juga mulai bosan dengan candaan ini. Aku keluar meninggalkan mereka, dengan alasan aku mau memarkir motorku dengan benar, agar tak kehujanan. Padahal, sebenarnya motorku sudah tertata dengan baik. Aku berjalan keluar. Merayap-rayap di tepian gedung. Bukan tempat parkir yang aku tuju, melainkan perpustakaan. Sambil berdoa agar petugasnya masih menata buku, sehingga aku bisa melihat kecantikan parasnya. Iya, petugas perpus kami yang baru adalah dua wanita muda yang cantik jelita. Tak dapat dipungkiri, semua murid lelaki di sekolah ini sangat senang ketika melihatnya. Bahkan guru kami pun juga ada yang naksir. Yah wajarlah. Manusiawi bukan? Namun rupanya aku tak beruntung hari ini. Mereka rupanya telah pulang. Perpus sudah tutup. Aku lanjutkan langkah kakiku. Menyusuri ruangan demi ruangan. Hingga aku terhenti pada salah satu ruang kelas. Ruang kelas sepuluh. Kulihat di dalam ruangan ada seorang murid perempuan. Ia duduk sendiri di dekat pintu sambil menatap air yang turun dengan penuh kebahagiaan di matanya. Perempuan yang cantik dan tak asing bagiku. Dia adalah Devi. Teman sekelasku. Tapi, kenapa dia ada di ruang kelas sepuluh? Padahal kami sudah kelas sebelas. Lebih baik aku tanya dia. Aku dekati dan kusapa dia. “Hay.. ngapain kamu sendirian di sini? Kok tidak pulang?” Dia rupanya cukup kaget dengan kehadiran dan pertanyaan yang aku layangkan padanya. Dengan wajah dan mata yang masih terkejut ia memberikan jawaban kepadaku. Dan yang tak ketinggalan adalah senyuman manis yang selalu menghiasi bibir kecinya. “Oh… kamu. Belum, masih nunggu hujannya berhenti, soalnya tadi rapat OSIS dulu. Dan yang lebih sial lupa tadi tidak membawa jas hujan. Kamu sendiri ngapain kok belum pulang juga? Nunggu hujan reda juga?” Aku seakan tak sanggup lagi untuk berkata sepatah katapun. Entah kenapa jantung ini berdebar lebih kencang. Aku gugup sekali. Kata-kata yang dia ucapkan begitu lembut dan menawan. Ditambah senyuman yang mempesona. Sungguh dia adalah pemandangan terindah di hatiku. “Wah… ditanya kok malah diam dan terpaku seperti patung sih?”. Lagi, tutur kata yang menawan dan senyuman manis itu kembali mempesonakan aku. Namun, kali ini menyadarkanku. Aku tersadar bahwa aku sedang berbicara dengannya. Dengan gugup aku menjawab pertanyaan darinya. “Oh… anu… tadi aku istirahat di masjid dulu, eh mau pulang kok malah hujan. Jadi ya sama dengan kamu, nunggu hujan berhenti juga jadinya.” Aku pun tak lupa membalas senyumnya dengan senyuman yang penuh rasa malu dariku. “Oh… begitu…” Belum sempat ia meneruskan perkataannya, aku kembali melontarkan pertanyaan untuknya. “Kok sendirian? Mana temen-temen OSIS-nya?” Cukup kaget dia dengan gelontoran pertanyaan yang aku tujukan untuknya. Entah apa yang ada dipikirannya ketika itu. “Iya, itu temen-temen ngobrol di ruang OSIS. Rapatnya kan sudah selesai barusan, jadi aku keluar dan duduk di sini. Menikmati hujan sendiri.” Kembali, sesuatu yang mempesona itu keluar dari dirinya. Senyuman manis dibalik bibir mungilnya. Dan senyuman itulah yang membuatku semakin tertarik untuk ngobrol dengannya.
“Wah… kalau begitu aku mengganggu kenikmatanmu bersama hujan ya?”
“Oh… tidak kok, tidak sama sekali. Justru aku sangat senang jika ada yang mau aku ajak ngobrol sambil menikmati hujan.”
“Sepertinya kamu sangat menyukai hujan ya?” Rupanya kali ini dia cukup kaget dengan pertanyaan yang aku katakana.
“Oh... tidak juga.” Kali ini kata-kata yang dia keluarkan terasa hambar. Tak ada notasi dan senyuman yang indah itu.
“Aku sebenarnya sangat kesal ketika hujan turun. Rasanya hujan begitu jahat. Semua aktivitas manusia seakan gagal total karena hujan. Contoh mudahnya adalah kita ini, kita gagal pulang karena hujan. Iya kan? Hujan itu jahat.”
Dia hanya tersenyum manis ketika aku mencurahkan pendapatku tentang hujan. Kemudian dia dengan penuh cahaya kebahagiaan menatapku lantas berkata. “Hujan itu tidak jahat. Hujan itu menyenangkan. Aku suka hujan. Ketika hujan turun, aku merasa sepertinya aku berada di dalam pelukan cinta kedua orang tuaku. Begitu nyaman dan menenangkan. Sama seperti hujan ini.”
Lagi, rasanya aku kembali terbujur kaku ketika mendengar untaian kata darinya. Sama seperti saat pertama aku menyapanya di sini. “Hujan itu menyenangkan. Begitu nyaman dan menenangkan.” Ia memang benar. Hujan itu menyenangkan, sama seperti dirimu begitu menyenangkan dan menenangkan. Dan setidaknya aku harus berterimakasih kepada hujan. karena hujanlah aku bisa berduaan bersamamu hari ini. Ujarku dalam hati. Tak lama lamunanku terceraikan oleh sapaan halus darinya.
“Loh… kenapa? Kok bengong lagi? Wah… nggak beres nih kamu…” Sambil tersenyum dia menatapku seakan mencari-cari tanggapanku atas pernyataannya.
Kembali aku tersadar dari kekagumanku terhadapnya. “Tidak… tidak apa-apa kok.” Aku menutup mata dan menarik nafas dalam-dalam untuk mencoba menghilangkan rasa gugupku yang selalu datang kala dia berkata dan menatapku. Tak lama ku buka mataku, sambil membalas senyumnya aku katakana kepadanya. “Memang sih hujan itu kadang bikin kita tenang, damai, dan juga kadang membuat kita merasa begitu menyenangkan. Seperti halnya padaku saat ini.” Dia menatapku dengan penuh rasa kaget. Tajam dia menatapku. Tatapan yang berniat mencari maksud perkataanku sampai jauh ke dalam otakku.
Akupun juga cukup kaget dengan tatapan yang dia berikan kepadaku. Apa mungkin ada yang salah dengan ucapanku? Sejenak aku berpikir keras sambil tidak melepaskan tatapan yang sama darinya. Aku merenungkan kembali kata-kataku, dan mencari-cari bagian mana yang salah. Hingga secara spontan dan penuh rasa kaget aku berkata,”Eh… maksudku anu… eehmm… maksudku saat ini walaupun, hujan kita kan masih bisa merasa senang. Iya kan?” Devi hanya tersenyum melihatku berkata dengan terbata-bata. Berbeda dengan sebelumnya, senyumannya kali ini sangat manis dan sangat mendamaikan. Sungguh dia adalah bidadari yang Tuhan turunkan untukku, setidaknya untuk hari ini. Akupun ikut tersenyum. Dan akhirnya kami tertawa lepas. Diiringi gemericik air yang turun. Sungguh sore itu adalah sore yang tak pernah aku bayangkan.
Akhirnya keceriaan kami terpecahkan oleh suara yang tiba-tiba muncul dari ruangan kecil di sebelah barat sana. “Cieee… ada yang pacaran nih…??” Suara mereka berdua serempak, dan dengan penuh tawa. Ternyata Rahayu dan Tyas. Mereka berdua adalah teman seangkatan dengan kami. Dan mereka juga sahabat dekat Devi, dan sama-sama pengurus OSIS. Keceriaan kami hilang seketika. Kami sangat kaget dengan kedatangan mereka.
“Eh ayo Yu, kita tinggalin mereka, entar kita ganggu mereka.”
“Iya… entar kita dikira tukang ganggu lagi.”
Mereka tertawa terbahak-bahak sambil berjalan meninggalkan kami. “Bye pasangan baru…!!” Ucap mereka kompak dengan penuh tawa diikuti lambaian tangan yang seakan memberi restu kepada kami.
Aku dan Devi masih diam dan hanya bisa tersenyum kecil melihat tingkah mereka. Tapi Devi memecah kebingungan kami.
“Ah… apa-apaan sih mereka? Ada-ada saja.”
“Kenapa sih? Biarin saja mereka. Yang penting mereka senang. Iya kan?” Sambil tertawa aku mencoba membela Rahayu dan Tyas.
“Ya bukannya begitu sih... memang tidak apa-apa. Tapi nanti kalau gebetan kamu ngeliat kan bahaya. Bisa terjadi perang dunia ketiga.” Senyuman itu tak pernah ia lupakan.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala dan tertawa lebar mendengar kata-kata Devi. “Wah-wah… kamu ini apa-apaan sih? Teman dekat cewek saja nggak punya, apalagi gebetan. Wah… kamu ini yang bahaya.”
“Loh… kok malah nyerang aku juga sih? Apanya yang bahaya coba? Awas ya kamu!” Kali ini senyuman itu tak tampak. Wajah yang cemberut ia berikan kali ini. Dan lagi, aku hanya bisa tertawa riang melihat kelakuannya. Dia memang sangat lucu dan mempesona. “Bukannya aku nyerang kamu, tapi kan bahaya juga kalau pacar kamu yang itu tahu hal ini.” Kubalas wajah murungnya dengan senyuman kecil dariku.
Pacar. Iya, pacar. Aku setiap hari melihat Devi selalu berboncengan dengan seorang laki-laki. Saat ia pulang dan berangkat sekolah. Mereka terlihat seperti itu sejak dari kelas satu dulu. Dan sampai sekarang mereka masih seperti itu. Belakangan aku ketahui lelaki itu bernama Iman. Dia adalah murid kelas dua juga, teman kami juga. Satu angkatan.
“Hah… pacar? Siapa?” Kali ini dia seperti melihat kuntilanak yang wajahnya baru saja terkena siraman air keras. Devi begitu kaget dan tercengang. Akupun segera membangun pertahanan, sehingga ketika dia melepaskan kekuatan supernya, aku sudah siap dengan bentengku. Namun, sambil tersenyum palsu aku mencoba menjelaskan perkataanku yang tadi. “Ehm… maksudku yang setiap hari bersama kamu itu. Iman. Iya, Iman. Dia gebetan kamu kan? Hayyo ngaku?”
Aku harap-harap cemas dengan jawaban apa yang akan ia berikan kepadaku. Namun, kembali senyum manis itu mempesonakan aku. Menenangkan sekali melihat senyuman itu. “Iman. Dia kelas dua juga kok, sama seperti kita. Dan yang perlu kamu ketahui adalah bahwa dia itu sepupuku. Rumahnya saja dekat denganku, dan pacarnya adalah temanku SMP. Jadi kamu jangan membuat gossip. Aku  sama kayak kamu kok. Teman dekat cowok saja nggak punya, apalagi pacar. Eh… tapi awas ya kamu kalau coba-coba membuat gossip lagi.” Walaupun ia telah berhenti bicara, tapi ia masih tertawa kecil. Mungkin ia menertawakan ucapanku tadi, yang mengira kalau dia dan Iman pacaran. Akupun juga semakin salah tingkah. Mungkin lebih tepatnya bukan salah tingkah, tetapi malu dan khawatir. Khawatir kalau nanti image-ku berubah menjadi orang yang suka gossip. Tapi kucoba untuk tetap bersikap tenang dan seolah tak terjadi apa-apa. “Oh… ternyata dia sepupu kamu… aku kira pacar. Jadi malu aku.” Kami berdua tertawa terbahak-bahak. Dalam hati akupun merasa bahagia sekali. Bagaimana tidak, aku masih punya peluang besar untuk mendapatkannya.
Sepotong kata dariku membuat tawa kami terhenti. “Menurutku cinta itu seperti hujan. Tanpa kita mencari, pasti akan datang sendiri jika waktunya tiba.”
Dia terlihat berpikir mencerna ucapanku. Atau bahkan ia mencari kata-kata yang indah untuk membalas pernyataanku. Lagi, senyuman mempesona itu kembali ia tunjukkan padaku. “Cinta itu seperti hujan. Kadang hujan membawa kita kepada kesedihan, namun kadang juga membawa kita kepada kebahagiaan dan ketenangan.”
“Cinta itu seperti hujan. Membasahi tanah yang kering. Tanah yang gersang.” Belum sempat aku berpikir mencari kata-kata untuk membalas ungkapan darinya, namun ia kembali melontarkan kata-kata indahnya kepadaku. Wah aku kalah selangkah nih dari dia. Bisikku dalam hati.
“Cinta itu ibarat secangkir kopi. Akan terasa nikmat jika masih panas, namun resikonya cepat habis. Tetapi jika kita minum sedikit demi sedikit akan tahan lama, namun keburu dingin. Memang cinta itu membuat kita bingung. Sama seperti kita saat terjebak hujan.”
Dia tiba-tiba tertawa lebar mendengar kata-kata dariku. Dan akupun juga semakin bingung. Apa yang terjadi? Namun, kuikuti saja dia dengan tawa kecil dari bibirku.
“Kok kamu tertawa sih? Lucukah? Atau ada yang salah?” Aku tak dapat menyembunyikan rasa penasaranku terhadap tawa yang ia berikan.
“Oh… nggak kok. Nggak ada yang salah. Aku hanya kagum saja dengan kamu. Ternyata kamu puitis juga ya? Dan semua kata-kata tentang cinta yang kamu ucapkan tadi, terus terang aku sangat setuju dan menyukainya.” Senyuman yang lain ia tunjukkan kali ini. Senyuman yang sangat mempesona. Senyuman yang sangat tulus dan teristimewa dari hati. Setidaknya itulah yang dapat aku tafsirkan dari senyumannya kali ini. Dan aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya membalas senyuman yang ia berikan sambil garuk-garuk kepala seolah mencari kutu yang membuat aku kembali salah tingkah.
Senyuman kami terhenti, seiring berhentinya hujan. Dan akhirnya kami harus berpisah. Kami harus pulang. Tukar senyuman. Iya, itulah yang menjadi akhir dari romansa semu kami hari ini. Dan hujan adalah pahlawanku hari ini. Aku berjalan menuju ke masjid untuk mengambil tasku. Sementara Devi menuju ruang OSIS mengambil barang-barangnya. Kami memang saling membelakangi saat kami meninggalkan ruang kelas itu, namun aku merasa bahwa aku dan dia berjalan bersama, saling berdampingan. Sungguh hari ini adalah hari terindahku. Dan aku harap ini akan berlanjut sampai akhir hayat nanti. Doaku dalam hati.
Memang, cinta itu seperti hujan. Akan datang kepada kita di waktu yang tepat. Ketika waktunya sudah tiba. Dan ia tak hanya sekedar menjatuhkan air dari langit, namun ia juga membawa dua hal: kebahagiaan dan kesedihan. Kebahagiaan karena ia begitu menenangkan dan menyirami tanah yang gersang. Kesedihan karena ia membawa kita kepada kebingungan dan perbuatan serba salah. Namun, anehnya kita akan merasa linglung jika kesedihan itu tak menyertai cinta kita. Iya, inilah cinta. Tak dapat kita pikirkan secara logis, namun dapat kita rasakan kenikmatannya. Layaknya air yang turun dari langit: tak dapat kita pegang, namun bisa kita rasakan bagaimana ia menusuk kulit kita.
Salah satu teman kuliahku menepuk bahuku, dan menyadarkanku bahwa hujan telah reda. Tanda saatnya untuk pulang. Tak terasa bahwa tanganku sedari tadi menengadah ke langit. Dan telah basah oleh air hujan.
Layaknya air yang turun dari langit. Seperti itulah kisah cinta ini. Antara aku dan dia. Entah kapan ini akan berakhir. Karena semuanya akan berakhir jika saatnya telah tiba. Dan akhir dari sesuatu adalah awal dari sesuatu yang lain. Percayalah semua akan indah pada waktunya. Lihatlah hujan.

BEK130592

Jumat, 16 Agustus 2013

PUISIKU, BUKAN UNTUK DIA…!!!



Sore ini masih seperti sore sebelumnya. Gerombolan kelelawar yang terbang hendak mencari makan, langit barat yang menampakkan cahaya merah, dan udara peralihan dari panas ke dingin yang sedikit mengagetkan kulit. Namun, aku tak sama dengan sore. Hari ini aku melakukan sesuatu hal yang tak biasa aku lakukan di setiap sore sebelumnya. Aku ingin mengitari kota ini. Menyusuri sendirian indahnya jalanan kota ditemani cahaya terang sang mega merah. Memang besok bukanlah akhir pekan. Besok juga bukan hari libur untuk kuliahku. Namun, setidaknya aku bisa sedikit bersantai malam ini. Karena semua tugas kuliah yang biasanya selalu menjadi teman kencanku, hari ini telah aku selesaikan semuanya. Tak ada yang tersisa. Jadi, secara otomatis sore ini adalah waktu di mana aku melampiaskan rasa kesalku terhadap tugas kuliah, dengan cara menikmati jalanan kota di tengah pekan. Tak ada yang menemaniku. Memang aku sengaja pergi sendiri.
Tak ada yang menarik. Masih sama seperti biasa. Baik akhir pekan maupun tengah pekan, ternyata sama saja. Jalan di kota ini selalu saja ramai. Semua orang dari semua lapisan dan golongan masyarakat melintasi jalanan kota ini. Mereka saling berinteraksi dengan klakson dan asap kendaraan mereka. Penuh sesak mata memandang. Walaupun sebenarnya aku tak merasakan kesesakan itu. Tak ada yang istimewa maupun yang mengejutkan sore ini. Namun, aku juga tak tahu rasanya sore ini adalah hari yang istimewa bagiku. Entah karena aku sudah terbebas dari penjara tugas kuliah atau karena fenomena langka: jalan-jalan santai mengelilingi kota di tengah pekan. Iya, bagiku jalan-jalan santai di tengah pekan adalah fenomena langka dan layak masuk rekor MURI, karena semenjak aku datang dan aktif masuk kuliah di kota ini, tak pernah sekalipun aku merasakan nikmatnya jalan-jalan santai di tengah pekan.
Aku masih berjalan. Ku ikuti ke mana kaki ini melangkahkan tulangnya. Cahaya langit sore yang semakin memerah nan gelap, kendaraan yang saling berlomba membunyikan klakson, serta kelelawar yang sudah tak nampak lagi adalah teman dan saksi bisu perjalanan dan kebahagiaan jiwa ragaku sore ini. Sudah tak mampu lagi aku menahan jiwa dan ragaku untuk melangkah menuju tujuan yang mereka cari.
Hingga aku melihat sesuatu yang memaksa langkahku berhenti. Sesuatu yang semakin membuat kebahagiaan sore ini semakin menarik. Aku melihat seorang wanita seumuran denganku. Dia duduk di depan toko buku. Seratus meter dari tempat di mana aku berdiri sekarang. Sejenak aku pandangi ia dari tempatku. Ia pun masih asyik dengan lembaran buku di tangannya. Indera ini sepertinya tak mau dibohongi. Sepertinya aku tak asing dengan wanita itu. Rasanya aku sudah kenal dekat dengannya. Aku berjalan pelan, aku dekati dia. Ternyata benar. Dia adalah Devi. Teman satu SMA saya. Memang kami tak pacaran baik sekarang maupun dulu. Namun, dia adalah orang istimewa. Wanita yang selalu mendapat tempat teristimewa. Setidaknya di hatiku. Iya, aku akui aku memang dekat dengannya. Aku hampiri dan aku sapa dia.
“Devi…kamu masih lucu nan menarik ya!!” Spontan aku mengeluarkan kata-kata yang tak pernah kurancang sebelumnya. Aku pun sedikit malu menyadari apa yang telah aku ucapkan.
“Hai…terimakasih.. Bagaimana kabar kamu?” Dengan sedikit kaget dia balik bertanya kepadaku. Disertai dengan suatu hal yang tak pernah ia lalaikan. Senyuman indah yang keluar dari bibir kecil nan tipis itu. Senyuman yang selalu aku rindukan di setiap waktu.
“Baik. Kamu bagaimana?” Aku mengambil posisi duduk di sebelah kanan Devi. Sambil aku perhatikan buku yang ia baca. Buku kumpulan motivasi ternyata.
“Baik.” Jawab Devi singkat. Sepertinya dia masih agak kaget dan tak percaya.
Wajar saja. Sudah hampir satu tahun sejak lebaran tahun kemarin, kami belum pernah bertemu secara langsung. Dan ini juga pertemuan pertama kami di kota ini. Walaupun sudah satu tahun lebih kami kuliah di kota yang sama, kami tak pernah bertemu. Maklum, kampus kami berjauhan. Sangat jauh. Sama seperti keadaan hati kami sekarang. Meskipun dulu kami pernah dekat. Sangat dekat. Cukup lama kami hanya terdiam sambil melempar senyuman satu sama lain. Entah apa yang ia pikirkan. Dan akupun juga tak tahu dengan apa yang aku pikirkan. Hening. Walau sebenarnya suara kendaraan tak henti menyambar telinga kami berdua. Aku beranikan untuk memecah keheningan ini.
“Kamu kenapa ada di sini? Tak kusangka kita bisa bertemu di tepi jalan seperti ini.” Dalam hati aku masih bingung mencerna kata-kata yang baru saja aku lontarkan.
“Oh.. Tidak ada apa-apa. Hanya kebetulan saja aku di sini. Besok aku tidak ada kuliah, jadi hari ini aku keliling kota sambil mencari buku ini. Dan ternyata toko ini yang punya.” Devi tersenyum sambil menunjukkan buku yang ia beli di toko itu. Buku kumpulan motivasi dari para motivator se-Indonesia. Dan tak sengaja aku lihat motor yang sejak setahun lalu menemani Devi terparkir di halaman toko.
“Memang motivator yang ada di buku itu orang hebat semua. Namun, kalau menurutku hanya ada satu motivator yang paling hebat di dunia ini. Yaitu diri kita sendiri.”
“Benar. Aku sangat setuju dengan pendapatmu. Tuhan tak akan merubah nasib kita, jika kita tak mengubahnya sendiri. Benarkan?”
“Tepat sekali.” Jawabku singkat sambil aku lontarkan senyuman kepadanya.
“Namun, segala sesuatu itu terdiri dari dua faktor. Internal dan eksternal. Tak terkecuali motivasi. Motivasi bisa kita dapatkan dari diri kita sendiri. Dan bisa juga kita dapatkan dari sekitar kita, semisal dari buku ini.” Aku terkesima dengan pernyataan Devi. Pernyataan yang diplomatis yang diiringi senyuman menawan. Semakin menginterpretasikan bahwa dia adalah salah satu wanita sempurna.
Sejenak aku terdiam. Aku berpikir: pertanyaan atau pernyataan apa yang harus aku keluarkan? Atau aku balas saja dengan senyuman? Belum aku mendapat jawaban dari pertanyaan itu, inderaku sudah menangkap suara yang kembali ia lemparkan.
“Ngomong-ngomong kamu sendiri kok bisa ada di sini?”
“Tidak. Aku tadi hanya jalan-jalan saja. Cari inspirasi untuk menulis puisi baru.” Aku tersenyum sambil aku tunjukkan blocnote yang sejak tadi menghuni saku jaket.
“Oh.. Sudah dapat inspirasinya?”
“Sebenarnya inspirasi tak usah dicari. Ia akan datang sendiri ketika kita menulis. Hanya butuh momen yang tepat saja.”
“Selalu. Orang yang suka menulis, selalu sok puitis dalam bicara.” Kami tertawa tebahak-bahak. Entah siapa yang lebih dulu memulai tertawa.
“Sebenarnya aku mau membuat puisi ucapan ulang tahun untuk seseorang. Namun, aku tak mengerti, rasanya hati dan logika ini tak mau diajak menulis. Inspirasi dan imajinasi seakan pergi mengembara meninggalkan jiwa raga ini.”
“Wah mulai lagi sok puitis.” Tawa kembali pecah di antara kami. “Ehm.. Sebenarnya kamu membuat puisi untuk siapa? Pacar kamu?” Devi meneruskan perkataannya.
“Bukan. Untuk orang yang begitu berharga bagiku. Motivator ulung bagi jiwa raga ini.”
“Oh.. Kamu belikan saja ia barang atau sesuatu yang mungkin ia sangat sukai.”
“Tidak. Aku tak ingin membelikannya barang. Aku ingin memberinya hadiah berupa karya. Karya dari hati. Dan nuraniku mengatakan puisi adalah hadiah yang paling tepat.”
“Wah.. sungguh beruntungnya orang itu.” Kami sama-sama tersenyum.
“Tapi ngomong-nomong, apakah kamu mau membantuku? Membuatkan puisi sebagai hadiah ulang tahunnya?”
“Lho! Kenapa harus aku? Kan lebih baik kamu sendiri yang membuatnya. Hadiah dari hati. Dari hatimu sendiri.”
“Memang benar. Tetapi, hatiku sepertinya tak mau membantuku hari ini. Aku harap hatimu mau membantuku.”
“Aku kan tidak tahu mengenai orang itu.”
Aku tak bereaksi. Heningpun tercipta untuk kedua kalinya. Kami sama-sama diam dan seolah-olah saling berpikir menemukan solusi.
“Atau begini saja. Di dalam buku ini ada beberapa puisi yang menurutku sangat indah dan saya rasa cukup tepat jika diberikan kepada orang yang istimewa. Bagaimana jika kamu mencontoh dari buku ini saja. Lagipula menurutku puisi ini juga dibuat dengan hati yang terdalam.” Devi melanjutkan perkataannya dengan memberikan solusi dan saran kepadaku.
“Baiklah. Cukup menarik saranmu. Kalau begitu kamu yang menulisnya ya?” Aku menyodorkan blocnote beserta pulpen yang sejak tadi aku genggam kepada dia.
“Lho! Kenapa aku?” Devi kaget. Dan aku hanya tersenyum. Namun, senyuman kali ini adalah senyuman paksaan agar dia mau menuliskan puisi itu.
“Kamu ini aneh ya! Tadi kamu bilang kamu ingin memberi hadiah puisi kepada seseorang, namun justru aku yang kau suruh menuliskan puisinya.”
“Tidak apa-apa. Apakah kamu tak ingin membantuku? Hanya sekedar menyalin puisi.”
“Bukannya begitu. Tetapi, akan lebih sempurna jika kau sendiri yang menulisnya. Atau malah puisi itu kamu sendiri yang membuatnya.”
Sepertinya Devi memang benar-benar tak mau menuliskan puisi itu. Aku tak tahu, apa alasan yang memenjarakan dirinya sehingga tak mau membantuku. Apakah dia ingin aku membuat karya sendiri untuk hadiah puisi itu atau dia memang tak mau terlibat dengan kebahagiaan yang baru saja aku peroleh, walau hanya kebahagiaan semu. Aku tak mau berspekulasi. Yang aku tahu, dia bukanlah orang yang tak mau menolong sesama, namun dia adalah orang yang selalu memberikan pelajaran secara tersirat maupun tersurat kepada lawan bicaranya.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan menulis sendiri puisi itu. Puisi dari hatiku sendiri. Kamu tahu, siapa penerima puisi itu? Orang yang kamu sebut beruntung tadi adalah aku sendiri. Puisi itu akan kuberikan kepada diriku sendiri. Dari aku dan untuk aku.”
“Apa maksutmu? Aku tak mengerti. Jangan sok puitis kamu!” Kali ini dia sangat serius. Bahkan dari tatap matanya, bisa aku simpulkan kalau dia agak jengkel atau bahkan marah dengan kalimatku tadi.
“Besok adalah hari ulang tahunku. Aku melakukan perjalanan ini hanya untuk mencari inspirasi baru demi sebuah hadiah untuk aku sendiri. Namun, hati dan logikaku sepertinya menjauh. Mereka tak mau memberiku hadiah ulang tahun. Bahkan, orang yang selama ini cukup dekat dan istimewa di hatiku pun, juga tak mau memberiku hadiah. Walau itu hanya sebatas menuliskan puisi.”
Aku bangun dari tempat dudukku. Sambil tersenyum aku pandang Devi dengan tajam. Ia masih tak percaya dengan semuanya. Entah apa yang ia pikirkan. Sepertinya ia mau bicara, namun terhalang oleh tembok kokoh yang menghentikan kata-katanya.
“Semoga kita bisa berjumpa lagi. Sukses buat kamu.” Aku pergi dari tempat itu. Berjalan membelakangi pandangannya.
Lirih terdengar suara dari belakang. Mungkin itu suara Devi. Namun, aku tak mendengar pasti, suara itu melebur dengan jeritan kendaraan yang sejak tadi lalu lalang di jalanan ini. Akupun juga semakin tak mengerti. Dalam beberapa menit yang lalu aku merasakan kesenangan dan kenikmatan yang nyaris sempurna: jalan-jalan tengah pekan tanpa secuil tanggungan tugas kuliah dan bertemu dengan yang teristimewa. Namun, semua itu bertransformasi dengan cepat hanya dalam hitungan detik. Semua menjadi kepedihan dan kekecewaan. Baru aku menyadari, bahwa di dunia ini tak ada yang benar-benar sempurna dan semuanya serba sementara, tak ada yang mutlak maupun abadi. Semuanya hanya bayang semu. Layaknya dia: selalu mendapat tempat teristimewa di hati ini, namun tak mampu memberikan yang teristimewa pula untuk hati ini. Walaupun sudah aku pinta.
Hari ini memang tak aku dapatkan sebuah puisi dari hati yang teristimewa, untuk ulang tahunku besok. Tetapi, aku mendapat karya dari hati yang lain, yaitu dari hatiku. Iya, inilah hadiahku, inilah puisi dari hati. Semua ini adalah puisi dari hati. Puisi dari hatiku, bukan darinya. Puisi untuk aku, bukan untuk dia.

BEK130592

LAHIR & BATIN



Malam ini masih sama seperti malam sebelumnya. Terpaku di depan laptop mini, ditemani secangkir kopi yang tak pernah manis dan beberapa batang kretek yang masih enggan aku nyalakan. Dan yang tak pernah ketinggalan adalah lagu super mellow nan klasik. Entah apa alasannya, tapi lagu yang mellow-lah yang selalu memberi aku tambahan imajinasi yang inspiratif dalam mengisi waktu luang ini. Entah itu menulis fiksi maupun non-fiksi.
Mungkin bagi sebagian orang, kebiasaanku ini adalah perilaku orang kuper. Setiap malam hanya termenung di depan laptop, entah mengetik atau nonton film atau bahkan nge-game. Hingga puncaknya pada malam ini. Entah kenapa malam ini rasanya begitu membosankan nan melelahkan. Seperti terbang ke angkasa dengan parasut dan terjatuh di gunung yang tak pernah bisa kita daki. Terus aku cari, apa yang hilang pada malamku ini. Mungkinkah memang seharusnya aku mengikuti tradisi para muda-mudi pada umumnya, pergi keluar rumah atau dalam bahasa kerennya hang out bersama para cewek-cewek, entah itu pacarnya ataupun hanya “sewaan” semalam. Ataukah memang malam ini adalah malam di mana untuk pertama kalinya aku harus terpenjara dalam kesendirian yang tak pernah atau lebih tepatnya tak tahu kapan akan berakhir. Namun, aku bukanlah pecundang yang menyerah begitu saja pada kegelapan hati dan kegelapan cahaya lampu akibat pemadaman. Aku adalah orang yang selalu bermimpi dan berimajinasi. Walau banyak yang bilang mimpi itu adalah pembawa kekecewaan dan imajinasi itu adalah sahabat kegagalan. Karena imajinasi sangat jauh dari realita, dan hidup menurut mereka adalah realita. Namun jangan khawatir, karena aku adalah garda terdepan yang akan melawan teori itu. Aku adalah pemuja mimpi dan imajinasi. Hidup adalah rentetan mata rantai, dan rentetan mata rantai itu kita ukir dari mimpi. Jika kita tak bermimpi atau bahkan tak punya mimpi, kita masih bisa mempunyai mata rantai, namun kita tak bisa membuat mata rantai itu saling berhubungan satu sama lain. Karena mimpi adalah perekat untuk rentetan itu. Begitu pula imajinasi, bagaimana mungkin kita bisa berkarya jika kita tak punya imajinasi? Bahkan Einstein pun berpendapat bahwa “imajinasi itu tak terbatas, sedangkan ilmu pengetahuan itu terbatas”. Lalu masihkah kita membohongi diri bahwa imajinasi adalah mesin dalam berkarya? Imajinasi jauh lebih dalam dan luas dalam menuntun kita berkarya di kehidupan serba realistis ini.
Sebenarnya kita bisa menjadi seorang yang sukses, baik dalam status sosial maupun dalam status yang lainnya, tanpa harus mengutamakan mimpi dan imajinasi. Namun, saya sangat pesimistis bahwa kesuksesan itu juga membawamu mengenali dirimu sendiri. Mungkin ketika kamu sukses tanpa mimpi dan imajinasimu, itulah saat di mana kamu menjadi orang lain. Dan pertanyaannya, sampai kapan kau akan bertahan menjadi orang lain? Berapa lama? Sanggupkah engkau beserta orang terdekatmu melihatnya?
Sangat sulit untuk kita jawab. Dan mungkin jika saya yang harus dihadapkan pada pertanyaan itu, saya memilih lari dan rela dikatakan pecundang. Karena memang pertanyaan itu seperti pedang: tajam dan menyayat. Namun, aku selalu ingat akan sebuah peribahasa: mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Dan mungkin bagi kita atau setidaknya untuk aku sendiri, berjalan menempuh kehidupan yang sakit ini di atas rel mimpi dan imajinasi adalah pilihan yang jitu untuk mencapai kesuksesan yang hakiki, yakni kebahagiaan lahir batin. Atau jika tidak bisa mencapai kesuksesan itu, cukuplah tidak menjadi pesakitan di kehidupan ini. Lahir dan batin.

BEK130592

LALAI



Kuliah hari ini terasa begitu membosankan. Selain karena kondisi raga yang tidak begitu baik, juga karena ribuan tugas yang terus menghantui diri ini. Tak hanya tugas dari kelas, namun juga tugas yang mengejar lewat organisasi. Rasanya tugas tak akan pernah berhenti untuk mengejarku. Lain halnya dengan kedua tugas tadi, tugas dari rumah pun juga semakin menumpuk. Atau yang lebih ekstrem lagi adalah tugas dari hati. Tugas yang sebenarnya cukup mulia. Namun sayangnya tugas ini menjadi hina karena attitude negative yang dimiliki sebagian besar pengemban tugas atau justru pemilik hati itu sendiri. Jelas sekali bahwa tugas yang satu ini cukup mulia. Bagaimana tidak. Kita, khususnya saya sebagai lelaki, ditugaskan untuk mencari potongan tulang rusuk kita. Kita ditugaskan oleh hati untuk menjalankan ibadah dan sunnah Rasul yang cukup penting. Kita diharuskan untuk mencari tambatan hati. Dan kelak itu akan menjadi pendamping hidup kita hingga raga telah dikubur dan jiwa telah kembali kepada-NYA. Bukankah itu sangat mulia? Kita diberi tugas untuk mencukupi kebutuhan nafsu kita, namun itu bukanlah dosa melainkan ibadah dan pemenuhan amanat Tuhan dan Rasul.
Namun, masalahnya sekarang ini yang terjadi adalah sebuah pengkhianatan terhadap tugas mulia hati ini. Kita sebagai manusia yang mengklaim diri sebagai makhluk sempurna, sering sekali membelot dalam pemenuhan amanat ini. Manusialah yang menghancurkan tugas mulia ini. Mengapa demikian? Bukankah sudah jelas, bahwa kita memang diperintah untuk mencari tambatan hati. Namun, kita juga diperintahkan untuk meresmikan tambatan hati tersebut. Dalam bahasa sederhana, kita boleh bermesraan ataupun bergandengan dengan lawan jenis -yang biasanya itu kita sebut dengan pacaran- dengan catatan kita sudah meresmikan tambatan hati kita, atau dalam bahasa yang lebih sederhana menikah lebih dulu sebelum pacaran.
Memang kalau kita mengaku sebagai orang yang berpancasila dan beragama, seharusnya adalah seperti itu. Karena itulah ketentuannya. Namun, mayoritas manusia mengatakan bahwa itu adalah sebuah aturan yang tak logis dan tak sesuai perkembangan jaman. Marilah kita sama-sama berpikir: aturan religi yang mengatur kita atau jaman yang kita jadikan aturan? Yang jelas agama adalah tuntunan sempurna untuk kita menggapai kebahagiaan yang hakiki. Semua kembali kepada kita. Dan ingat segala pilihan ada konsekuensinya masing-masing. Semoga kita selalu memilih agama dalam segala tindakan.
BEK130592

GULALI ROMANSA “PART III”



Seperti biasa lajur aspal yang lurus penuh bebatuan telah menungguku pagi ini. Seakan tak mau kalah, motor yang biasa menemaniku menempuh jalanan yang terik, kini juga sudah siap untuk melaju menempuh jalanan yang hari ini berubah dari terik menjadi sedingin lemari es.
Walau udara hari ini berubah, namun tidak dengan pemandangan dan suasana jalanan. Jalanan masih penuh dengan ribuan aktivitasnya. Mulai dari pedagang sayur, tukang becak, pegawai negeri, direktur perusahaan, hingga anak sekolahan, mereka semua bersatu padu membentuk jalanan yang ramai, jalanan yang bising, dan jalanan yang hidup akan interaksi sosial. Walau interaksi itu hanya sebatas klakson dari kendaraan mereka masing-masing.
Lama aku larut dalam humaniora mesin di jalanan, hingga aku tak sadar bahwa tujuan telah menanti di depanku: sekolah yang setiap hari menjadi sarana belajarku sejak lulus SMP satu tahun yang lalu. Seperti biasa, nongkrong di tempat parkir kendaraan siswa, adalah ritual wajib yang aku dan teman-teman lakukan setiap pagi. Setiap hari. Namun, sejak dua hari terakhir ini, ritual pagi yang aku lakukan tak hanya sekedar nongkrong bersama teman-teman, tapi juga menanti seseorang. Seseorang yang tiba-tiba menjadi pencarian hati. Dialah sang pengobat kegalauan cinta: Devi. Nama yang terdengar begitu indah dan menawan. Selaras dengan parasnya yang cantik, senyuman yang manis menenangkan, dan keanggunan sikapnya. Sungguh, dialah pengobat jiwa yang paling tepat.
Tapi hari ini tak seperti hari sebelumnya. Biasanya aku selalu melihatnya di parkiran, dan kami hampir selalu bareng ketika menuju ke kelas, dan tentunya itu bersama teman-teman yang lainnya. Tapi, kemana dia hari ini? Kenapa aku tidak melihatnya? Padahal bel tanda masuk sudah berbunyi. Apakah dia terlambat? Ah, mungkin dia memang terlambat.
Hampir satu jam pelajaran telah usai. Namun, tanda-tanda kedatangan Devi pun tak kunjung aku dapatkan. Pikiran yang bertanya-tanya telah menggiring bola mataku bergerilya mencari-cari sesuatu yang aku sendiri tak tahu apa itu. Tiba-tiba fokus mataku beralih ke papan absen. Terlihat di sana tertera nama yang sejak tadi aku cari. Ternyata Devi tidak masuk hari ini. Kemana dia? Hanya keterangan ijin yang temukan di sana. Lalu ke mana dia? Bukankah tadi malam dia mengajakku bermain catur hari ini. Lalu kenapa dia justru tidak masuk hari ini? Mungkinkah dia membohongiku? Ataukah dia lupa akan janjinya? Tapi menurutku Devi bukanlah seorang yang dengan mudah melupakan janjinya. Mungkin hari ini memang dia ada keperluan yang sangat penting. Aku sms dia. Mungkin sms akan membantuku menemukan jawaban dari bermacam pertanyaan tentangnya yang bergelayut di otakku. Namun, itu hanyalah isapan jempol semata. Berjam-jam aku menanti balasan sms darinya, tapi tak ada satupun sms yang masuk dengan tulisan nama Devi.
Pikiran yang melayang mencari-cari si dia, telah membuatku tak nyaman dan tak fokus lagi dengan pelajaran hari ini. Entahlah! Aku juga tak tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Yang jelas hati ini sepertinya sudah terpatri pada seorang yang bernama Devi. Apakah ini hanyalah sebuah romansa semu? Ataukah ini sebuah kisah asmara sejati, yang akan terus berkesinambungan? Tuhanlah yang tahu, karena Dialah Sang Pencinta Sejati.

BEK130592

GULALI ROMANSA “PART II”



Pagi ini masih seperti biasa. Embun yang menenangkan, mentari yang mengintip di balik kabut. Seperti biasa dunia selalu menyapaku dengan penuh senyum, bukan karena dunia mencintaiku, melainkan dunia seakan menyuruhku dengan lantang agar bergegas pergi ke sekolah. Mencari ilmu yang katanya bisa menaikkan taraf hidup suatu kaum. Padahal realitanya banyak juga kaum berilmu tinggi yang jadi pengangguran. Namun, apapun itu asalkan kita berusaha dan berdoa, maka tak ada cita yang tak tergapai. Karena Tuhan akan membantu makhluknya yang ulet.
Lima belas menit sudah aku berada di atas mesin berjalan ini. Dan tak terasa aku telah sampai di tempat ini lagi. Tempat di mana aku setiap hari mencari ilmu, atau bahkan mencari cinta. hehehe. Kulihat ke segala sudut sekolah. Tak ada yang berubah, semua masih sama seperti sebelumnya. Namun, batinku mendeteksi ada yang jauh berbeda dari biasanya. Hari ini begitu berbeda, begitu menenangkan, dan begitu membahagiakan. Ada apa gerangan? Aku berpikir keras. Bukan untuk memecahkan soal Fisika tadi malam yang sulitnya tujuh turunan, atau menemukan sanggahan dari teori Evolusi Darwin, melainkan untuk menemukan perbedaan apa yang terjadi hari ini. Lama aku hanya terdiam di atas kuda besi yang terparkir.
“Hoeee... ngelamun aja loe!! Belum dimasakin tadi??” Aku terkejut dengan suara lantang temanku dari samping. Dan seketika juga suasana canda tawa tercipta di area parkir siswa yang setiap hari juga merupakan area nongkrong bagi kami. Tiba-tiba aku terbawa untuk mengikuti suara motor yang baru parkir. Kulihat teman-temanku masih enak bercanda. Namun aku tak mampu melepaskan pandanganku dari motor itu. Ternyata inilah yang membuat aku merasa berbeda hari ini. Merasa jauh lebih menyenangkan dari sebelumnya. Bukan karena motor yang baru datang, melainkan karena pengendara motor itulah. Iya, dia adalah Devi. Orang yang tadi malam tiba-tiba sms aku, dan yang secara bersamaan telah mengirimkan sinyal cinta pada hati. Entah itu ia sadari atau hanya akulah yang terhegemoni dari cinta itu sendiri. Namun, hatiku tak mau diajak kompromi. Seakan memberi perintah ke syaraf, hati ini mengajak mata ini untuk mencuri-curi pandang kepada Devi. Kuperhatikan dia. Hanya senyuman yang manis yang ia berikan. Entah apa yang ada dibenaknya. Terus kuperhatikan dia dengan sedikit tersenyum. Memang, ada sesuatu yang berbeda dari dia. Sesuatu yang aku rasa berbeda dan tak dapat aku temukan dalam diri setiap wanita selain dia.
Sesuai rencana, hari ini harus aku manfaatkan untuk mendekati dia. Hari-hari di sekolah adalah momen yang tepat. Namun saying, hari ini semua gagal. Aku tak mendapati ia di kelas. Padahal kami satu kelas. Setelah aku nguping sana-sini, aku baru tahu ternyata ia ada kegiatan dengan OSIS-nya. Pantas ia tak terlihat hari ini. Tak apalah hari ini aku tak mendapat kesempatan mendekatinya, masih ada hari esok. Lagipula nanti malam aku masih bisa sms dia. Santai sajalah. Kucoba menghibur diri.
Malam pun tiba. Rencana yang sudah aku siapkan, segera aku lakukan. Kalau jaman Perang Kemerdekaan, Belanda sering menyebutnya Agresi Militer, namun kalau sekarang ini aku menyebutnya Agresi Cinta. Kulirik jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah delapan, waktu yang ideal untuk bertanya tentang PR sekolah. Ku ambil HP yang kuletakkan di atas meja belajar. Aku kirim sms kepada Devi.
“Assalamu’alaikum.. Sedang apa? By the way besok ada PR apa?” Sebenarnya saya sudah tahu PR untuk besok, namun inilah yang dinamakan strategi pdkt.hehe. Dan rupanya ada respon, dia membalas sms-ku.
“Wassalamu’alaikum.. Sedang lihat TV ini, kamu sendiri sedang apa? Kalau masalah PR seharusnya aku tanya ke kamu lho..?? hehe.”
“Wah… bahaya ini, sekolah kok nggak tahu ada PR apa tidak...hehehe.”
“Malah ngatain… padahal dia sendiri juga nggak tahu.. hehe. By the way kok tumben nggak tahu PR-nya?”
“Hahaha… ya biasalah.. manusia kan lupa juga, hehehe.”
“Hemmm… kalau kamu sih lupanya kelewatan, ingat cuma sekali, lupa ratusan kali.. hahaha.”
“Wah… ngatain dia.. hehehe.”
“Hehehe… piss… btw sedang apa kamu?”
“Ini lagi main catur di komputer.. bikin bete saja, dari tadi kalah terus.”
“Hahaha… jadi ingin main catur juga aku.”
“Emang bisa?”
“Wah… ngenyek ini. Lawan aku berani nggak?”
“Hahaha siapa takut. Besok di sekolah gimana?”
“Oke.. siapa takut. Kamu yang bawa papan caturnya ya?”
“Wah.. kok gitu? Kamu saja dech..”
“Hehehe.. aku nggak punya, aku kalau main juga sama komputer, masak komputernya aku bawa ke sekolah? Hehehe.”
“Ya sudah.. tak usahakan besok.”
Cukup lama aku tunggu balasan sms darinya. Namun, itu ternyata hanya harapan tak berujung saja. Dia sudah tak membalas sms-ku. Ku coba untuk berpikir positif saja: mungkin dia ketiduran. Toh, setidaknya aku masih bisa janjian dengannya untuk bermain catur bersama besok. Dan ini adalah kesempatan emas yang berikutnya untuk mengenal ia lebih jauh alias PDKT. Hehehe.

BEK130592

GULALI ROMANSA “PART I”



Seperti malam-malam sebelumnya, aku selalu mengurung diri di kamar. Bukan karena bertengkar dengan orang tua atau karena patah hati, namun karena tugas dari sekolah-lah yang memaksaku untuk melupakan acara favorit sebagian besar kalangan pelajar –yakni Opera Van Java- dan lebih memilih mengurung diri di kamar dalam satu minggu terakhir ini. Ini sebenarnya memang menyakitkan, tapi bagaimanapun juga kita harus bertanggungjawab dan konsekuen dengan profesi kita, yakni pelajar. Dan sebagai pelajar konsekuensinya adalah belajar dan mengerjakan tugas apapun situasi dan kondisinya.
Malam ini cukup berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Biasanya aku menatap ribuan kata di kertas ditemani dengan kipas angin, tapi malam ini selimut dan jaket tebal adalah penolongku menghadapi ribuan kata-kata yang seakan membunuh otakku. Malam ini begitu dingin. Selaras dengan suasana hati yang sekian lama membeku karena tak ada cinta seorang perempuan yang berhasil menghangatkannya. Sejenak aku merebahkan diri di karpet yang berada tepat di belakang meja belajar. Aku tersenyum sendiri ketika mengingat sebuah pertanyaan dari teman: “kamu itu bagaimana, motor sudah punya, tampang juga keren, otak juga termasuk pintar, tapi cewek tak punya, bagaimana kamu ini?”
Sempat terlintas untuk mencari yang namanya pacar. Mungkin memang sudah saatnya aku punya seorang tambatan hati. Apalagi aku sudah kelas 2 SMA. Lantas, siapa yang akan kujadikan pacar? Apakah teman SMP sekelasku dulu, yang pernah aku taksir? Atau teman sekelas pada waktu kelas 1 SMA, yang bisa dibilang cukup dekat denganku saat ini? Atau siapa?
Pertanyaan itu seakan menusuk-nusuk hati dan pikiranku secara perlahan. Namun, segera aku mengeluarkan angan-anganku dari jebakan gelap. Kuarahkan angan-anganku untuk menghibur diri: “Jodoh ditangan Tuhan, dan akan Tuhan amanatkan kepada kita suatu saat jika kita telah siap”. Iya, mungkin seperti itulah. Lebih baik aku selesaikan tugasku dengan baik dan benar.
Di tengah konsentrasiku untuk menuntaskan tugas, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara dari benda mungil yang kadang menyenangkan tapi juga menjerumuskan. Ternyata ada sms di HP-ku. Awalnya sempat terkejut aku membuka sms itu. Sms dari Devi. “Gila ini anak. Sudah jam 12 malam masih ‘melek’. Lagipula tumben juga ia sms, ada apa ini?” Gumamku dalam hati.
“Selamat malam.. Sudah tidur apa belum? Besok ada PR apa? Kalau belum balas ya?” Bunyi sms dari Devi. Sebenarnya cukup kesal juga aku, tengah malam sms cuma mau tanya PR. Dengan berat aku membalasnya. Itung-itung membantu teman.
“Selamat malam juga.. Belum tidur.. Besok PR-nya Matematika, Biologi, dan Fisika. Semuanya di modul, lanjutannya yang kemarin. By the way, kok belum tidur juga?”
“Hehehe.. Sudah tidur tadi habis magrib.. Ini baru bangun. Kamu kok belum tidur juga? Kok banyak banget ya PR-nya?”
“Iya banyak sekali.. Saya saja sampai belum tidur jam segini.. hahaha.”
“Hahaha.. Jangan dipaksakan.. kalau sudah ngantuk tidur saja, lagipula kan sudah tengah malam ini.. hehehe.”
“Wah.. perhatian sekali.. hahaha” Walaupun terkesan candaan, namun dalam hati aku berucap “Ini anak kelihatannya punya perhatian yang tinggi.”
“Hahaha.. ya sudah dilanjutkan belajarnya.. saya juga mau belajar.”
“Oke.. jangan dipaksakan juga.. hahaha.”
Tak ada lagi balasan sms berikutnya dari Devi. Mungkin dia memang sedang belajar atau melanjutkan tidurnya, aku juga tak tahu. Tapi, ada satu hal yang terkesan setelah itu. Alam bawah sadarku seperti bergerak sendiri memunculkan momen-momen di mana saat aku berpapasan dengan dia. Di mana saat aku berjumpa Devi untuk pertama kalinya. Di mana saat aku sedang berbincang dan bercanda ria dengan Devi. Semua muncul tanpa perintah. Aku pun bingung. Kenapa semua bisa terjadi? Ada apa? Mungkinkah aku jatuh cinta padanya? Atau apa? Ah.. entahlah! Aku tak mau terjebak dalam kebimbangan dan prediksi tak berujung. Lebih baik aku fokus pada tugas yang sebentar lagi akan menemui ujungnya. Bersamaan dengan selesainya tugas yang sedari tadi membelenggu otakku, tiba-tiba aku kembali mendengar suara sms dari HP kecilku. Aku buka sms. Sesuai dugaanku: Devi membalas smsku.
“Sudah tidurkah?” Dua kata yang membuat aku semakin penasaran dan membuat perasaan ini berbeda dari biasanya.
“Belum.. baru selesai tugasku.. bagaimana dengan kamu? Sudah selesai?”
“Wah.. besok aku nyontek ya kalau begitu? Hehehe. Kalau Biologinya hampir selesai, tapi Matematika dan Fisika sepertinya aku tidak bisa. Sudah ngantuk lagi.. hehehe.”
“Hahaha.. tidak perlu memaksa. Boleh-boleh saja kalau mau nyontek, asal tidak gratis. Hahaha.”
“Hahaha.. dasar pelit.. J.”
“Ya sudah.. aku tak tidur dulu ya.. sudah ngantuk. Ingat! Nggak perlu maksa, kalau sudah ngantuk tidur saja. Haha.”
“Iya.. selamat tidur ya..”
“Selamat tidur juga..”
Saling berucap selamat tidur menjadi akhir dari percakapan sms kami. Namun entah mengapa rasa senang dan berbeda terus menghinggapi diriku. Sepertinya memang ada sesuatu di hati ini yang ingin ditujukan kepada Devi. Tapi apa itu? Akankah cinta? Atau terimakasih? Atau tanda persahabatan? Atau apa? Keraguan inilah yang semakin mendorongku untuk lebih mendekatinya. Untuk mencari jawaban dari semua pertanyaan dan kebingungan yang melekat dalam hati. Dan mungkin hari-hari bersama di sekolah adalah latar yang tepat untuk itu semua.

BEK130592

BUDAYA DAN RELIGIUSITAS



Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah.
Begitulah slogan yang selalu kita dengar dan kita dengungkan setiap Ramadhan datang. Mulai dari kyai, politikus, artis, pengusaha, hingga kaum buruh pun sangat antusias menyambut bulan ini. Mereka pun juga berlomba-lomba dalam merealisasikan slogan di atas. Banyak hal yang mereka lakukan. Sedekah kepada sesama, memperbanyak ibadah kepada Sang Pencipta, adalah cara yang mereka lakukan untuk mencari sesuatu yang disebut berkah itu. Jika dirinci secara lebih lanjut, aplikasi dari tindakan mereka diantaranya: mengadakan buka bersama, sahur bersama, pengajian atau tabligh akbar, hingga acara televisi yang bertema religius demi menghibur dan menemani momen berbuka dan sahur para pemirsanya. Di mana kegiatan-kegiatan di atas telah menjadi tradisi masyarakat Indonesia setiap tahunnya. Seakan ini adalah ritual wajib setiap tahun sekali. Namun, dari semua tradisi di atas, ada satu yang paling fenomenal, yakni mudik.
Iya. Mudik adalah budaya yang secara alami tercipta di negara kita ini. Tak tahu pasti siapa atau masyarakat mana yang menciptakan budaya ini. Yang jelas, setiap tahunnya kita semua selalu menjadi bagian dari budaya ini. Yang menjadi pertanyaan adalah: apakah kita terpaksa ketika kita ikut terlibat dalam tradisi ini? Kalau kita lihat secara fakta lapangan, kita tidak pernah menyesal dengan adanya mudik ini. Kita sangat menikmati budaya ini. Justru ini adalah sebuah momen. Momen bagi masyarakat Indonesia untuk mengampanyekan slogan di atas, baik secara langsung maupun tak langsung.
Bagi mereka yang harus meninggalkan kota kelahirannya untuk bekerja atau menuntut ilmu di luar kota atau di daerah lain bahkan yang berada di luar negeri, mudik adalah momen terbaik mereka untuk bertemu keluarga, untuk bersilaturrahmi, mencari keberkahan Bulan Ramadhan. Tak hanya itu, mudik juga membawa berkah bagi para pedagang, jasa transportasi, serta bagi mereka pelaku usaha lain yang secara langsung atau tak langsung terlibat dengan budaya ini.
Mudik adalah budaya yang membawa keberkahan bagi kita semua. Bagi seluruh warga negara Indonesia. Dan uniknya ini sesuai dengan slogan yang sangat terkenal itu. Slogan yang diambil dari dalil Al Quran dan Al Hadis. Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Mudik adalah budaya penuh berkah. Selain itu, yang lebih unik adalah fakta bahwa mudik hanya dapat ditemui di negara kita ini, Indonesia. Betapa luarbiasanya bangsa kita, hanya berawal dari aktivitas sebagian besar masyarakat yang terjadi setiap tahun dan secara turun menurun hingga membentuk suatu budaya. Bukan sekedar budaya, namun budaya yang ternyata memiliki banyak sekali manfaat bagi kehidupan. Serta budaya yang sangat cocok dengan dalil yang ada di Al Quran maupun Al Hadis.
Inilah Indonesia. Bangsa yang sangat kreatif dan cerdas dalam menciptakan sebuah budaya. Dan sangat mahir dalam membentuk sebuah peradaban yang baru. Negara yang kaya. Bukan hanya kaya akan sumber daya alam, namun juga kaya akan adat, suku, kebudayaan, kesenian, dan yang lebih penting adalah kaya akan sumber daya manusia. Mudik adalah budaya religius yang tercipta asli dari bangsa ini. Dari interaksi kemanusiaan warga negaranya.

BEK130592

Kamis, 15 Agustus 2013

REALITA VS IDEALITA “JILID 3”



Kemarin aku berjalan-jalan ke alun-alun kota. Kota yang memberiku pembelajaran penting dalam hidupku. Setidaknya untuk 21 tahun ini. Hari itu mungkin sama seperti hari-hari biasanya. Penuh dengan muda-mudi yang sedang memadu kasih dengan pasangan mereka masing-masing. Rasa senang dan mendukung mereka atau rasa duka dan memaki mereka, mungkin dua opini inilah yang timbul ketika mata menemui fenomena seperti itu. Dan kita, atau mungkin aku, selalu bingung untuk memilih salah satu dari dua opini tersebut, sebagai sikap kita terhadap perkembangan muda-mudi generasi bangsa ini. Rasanya akupun juga sulit menentukan hal itu. Karena, jika kita bicara tentang hal di atas, tentu tak hanya sebuah pemikiran pragmatis yang kita gunakan, namun juga melibatkan sebuah pemikiran dari psikologi perkembangan dan sosiologi atau bahkan masih banyak lagi. Kesimpulannya adalah kita tak bisa memberikan pilihan sikap secara instan untuk muda-mudi yang sedang memadu kasih dengan pasangannya ini. Namun, aku mencoba untuk mencari sebuah opini baru. Opini yang mungkin bisa sedikit menggantikan kebimbangan dua opsi di atas. Memahami kembali hakikat cinta itu sendiri. Untuk apa cinta dan bagaimana kita menjaga cinta. Setidaknya itu bisa kita coba sebagai cara kita untuk memilih sikap atas romansa yang terjadi di kalangan remaja sekarang.
Mataku masih menjelajah seluruh pojok alun-alun. Aku coba menemukan pemandangan lain, selain pasangan muda-mudi yang tengah mengumbar asmara mereka. Namun, memang sebuah hal sulit, ketika kita menginginkan pemandangan lain di tempat seperti ini. Namun, beberapa saat kemudian, aku kembali dihadapkan dengan sebuah fakta unik. Lagi, aku menemui suatu fakta bahwa sulit itu bukan berarti tak bisa atau tak ada. Hanya saja, sulit itu terjadi ketika kita belum menemukan sesuatu itu. Hal ini karena terbatasnya ruang dan waktu bagi kita. Namun, ruang dan waktu yang membatasi kita, akan terpecahkan jika kita terus berusaha pantang menyerah. Dan rupanya hal ini menimpaku saat ini. Aku benar-benar menemukan pemandangan yang berbeda. Kulihat di alun-alun bagian selatan segerombolan laki-laki yang tak bersama pasangannya. Beberapa orang sedang latihan breakdance, hunting foto, sekedar bermain laptop atau smartphone. Setidaknya itulah yang mereka lakukan tanpa pasangannya di alun-alun ini.
Rupanya tak hanya kaum Adam saja yang menikmati kesendiriannya di alun-alun ini. Kulihat sekelompok kaum Hawa begitu riang menikmati keteduhan alun-alun ini tanpa pasangannya. Mereka terlihat sangat narsis sekali dengan Smartphone mereka. Aku terus perhatikan mereka. Nampaknya mereka juga menyadari bahwa mataku tak henti memandanginya. Mereka saling berbisik satu sama lain. Seolah mereka sedang merancang suatu strategi jitu untuk memusnahkanku. Namun, aku masih enggan melepaskan pandanganku dari mereka. Semakin lama semakin tajam aku menatap mereka. Mataku tak mau lepas dari sesosok gadis di antara mereka. Gadis yang sedari tadi asyik memotret merpati dan beringin di sekitarnya. Ia terlihat sangat berbeda dari gadis-gadis yang kujumpai selama di alun-alun ini. Ia begitu menawan. Eksotis sekali.
Lama aku memperhatikannya. Hal ini ternyata mengundang rasa curiga teman-temannya. Akhirnya ia menyadari kalau aku sedari tadi mengamati gerak-geriknya. Tentu saja ini karena campur tangan dari teman-temannya. Tiba-tiba, dengan semangat 45, mereka bergegas meninggalkan tempat mereka. Sepertinya mereka ingin mencari kopi. Karena mereka berjalan menuju café di barat alun-alun. Atau mungkin saja mereka takut dan tidak nyaman dengan kehadiran pandanganku di setiap gerak-gerik mereka. Entahlah! Toh, hanya mereka sendiri yang tahu alasannya.
Akupun juga telah bosan mengitari alun-alun ini. Seharusnya keteduhan alun-alun ini bisa meneduhkan jiwa ini. Namun, memang realita itu cukup sulit jika harus sinkron dengan idealita. Namun, setidaknya gadis itulah yang membuat jalan-jalanku hari ini lebih bermakna. Dan dialah alasanku untuk kembali jalan-jalan di alun-alun ini. Mungkin esok, lusa, atau mungkin minggu depan. Dan harus aku akui juga, bahwa aku memberi penilaian salah terhadap alun-alun ini. Karena pada akhirnya aku menemukan sesosok wanita yang membuat hati ini berdebar kencang dan rasa penasaran tiada henti. Jadi, berhenti berpikir stereotip –penilaian negatif atau memberi stigma negatif- terhadap apa yang kau jumpai. Karena sering pandangan kita tertipu dengan idealis kita.

BEK130592

REALITA VS IDEALITA “JILID 1”



Tulungagung, 31 Desember 2012
Sore itu nampaknya menjadi sore yang menyenangkan buat mendung. Dari pagi hingga menjelang asar, hujan tak henti mengguyur bumi Tulungagung. Terutama Tulungagung bagian selatan yang sejak kemarin malam setia dengan hujannya. Dan dalam situasi seperti ini, tiada hal yang lebih menarik dilakukan, kecuali: pergi keluar rumah untuk main hujan-hujanan atau menikmati secangkir kopi lengkap dengan gorengan dan rokoknya atau berfantasi ria bersama mimpi di tempat tidur. Dan yang terakhir inilah yang sejak tadi dilakukan Budi. Hampir dua jam ia hanya meringkuk di atas karpet merah di ruangan tempat ia sehari-hari berkumpul dengan mimpinya. Ia sangat menikmati dunia fantasinya. Rasa dingin sore itu menjadi teman setia dalam mengarungi mimpinya. Pertempuran air hujan dengan atap rumah pun menjadi alunan pengiring konser mimpinya kala itu. Rintikkan air langit bak petikan gitar “Dew Bujana” dalam dunia mimpinya. Membawa ia melayang dalam keindahan yang semu. Keindahan yang tak seorangpun mampu merusaknya. Hingga akhirnya kesemuan itu diporak- porandakan oleh kesemuan yang lain. Irama yang telah ia susun selama 2 jam lebih kini rusak karena melesetnya pukulan drum “Gilang Ramadhan”. Mata yang dari tadi menutup, kini membuka dengan sendirinya. Sedikit demi sedikit. Sial! ke mana perginya musisi tadi? Gumam Budi dalam hati, sambil ia mencoba mengumpulkan nyawa-nyawanya yang sudah dari tadi melayang-layang di langit mimpi. “Masih hujan ya? Terus gimana nasibnya kembang api nanti malam ya, kalo hujan kayak gini? Kasihan…” Budi melongok ke jendela dengan penuh tawa. Ia sepertinya cukup senang. Sangat senang bahkan. Ketika melihat hujan yang belum juga reda. Ia bahkan berharap agar nanti malam hujan deras, sehingga tak ada yang namanya konvoi motor atau tiupan terompet atau yang paling sakral: pesta kembang api. Iya, hari ini adalah hari terakhir dalam tahun “Kiamat” (2012). Dan berarti nanti malam adalah malam Tahun Baru 2013. Di mana akan menjadi malam yang begitu disakralkan orang semua orang, khususnya pemuda-pemudi. Beragam hal yang dilakukan. Mulai dari nonton bareng, bakar ayam bareng, konvoi jalanan, cumbuan dengan terompet, kembang api, atau bahkan sex bebas. Dan itu semua sangatlah tidak menyenangkan bagi dia. Dari pada uang dihamburkan buat bercumbu dengan terompet atau berpesta dengan kembang api, kan lebih baik untuk membantu sesama saja. Toh, masih banyak penduduk kota ini yang jauh dari kata sejahtera. Dan seharusnya mereka penguasa kota ini membuat aturan untuk itu semua. Bukan malah mengadakan acara di Alun-Alun. Acara yang mendekatkan pada jiwa konsumerisme, jiwa hura-hura, dan yang lebih parah ini akan mendekatkan pada sex bebas. Lagi-lagi idealisme Budi hanya mampu menembus pikirannya sendiri. Lama ia termenung dalam pikiran yang ia sendiri tak tahu. Tiba-tiba bunyi yang sering ia dengar muncul dari benda putih nan kecil itu. “Adaaaa…eess-eem-eess…” pertanda bahwa ada sms masuk. Ia mengarahkan tangannya yang kurus itu ke meja di sampingnya. perlahan namun pasti, Budi membuka HP-nya. Ternyata dua sms yang masuk. “Hoee..entar malem kita ke Alun-alun bro. Ada aku, wahyu, dan maman. Dan yang pasti Lo harus ikut.” Kata-kata yang tertera dalam sms Niko. Budi tak merespon apapun, dalam pikirannya masih kosong. Ia hanya menggerakkan jari kecilnya memijit-mijit ponselnya untuk membuka sms yang lain. Dan kata-kata yang tak berbeda ia jumpai kembali. Namun kali ini dari Wahyu. “Bro…nanti malam kita sama anak-anak tahun baruan ke Alun-alun. Aku nebeng ya? Hehe”. Pikiran yang dari tadi kosong, kini tiba-tiba seperti disuguhi ribuan pertanyaan tentang relativitas dan quantumnya Albert Einstein, yang ia sendiri tak tahu apa itu relativitas dan quantum. Bingung. Rasa itu yang seketika menghinggapi perasaan Budi. Terjadi perang saudara dalam dirinya. Antara ajakan sahabat dengan idealisme-nya sendiri. Mereka semua adalah sahabat terbaiknya. Sahabat yang setia mendengarkan keluh kesahnya. Sahabat yang selalu menolongnya kala kesusahan melanda. Dan kini, sahabat itulah yang mengajak dia untuk menghapus sementara idealisme-nya. Lama Budi hanya termenung. Ia tak tahu tindakan mana yang harus ia ambil. Ikut dengan sahabatnya atau berdiam diri di depan laptop dan meneruskan imajinasinya. Waktu pun tak dapat ia kendalikan. Terdengar kembali suara yang sama dari ponselnya. Ia buka sms itu. “Bagaimana?” sms dari Niko mencari kepastian Budi. Ia berpikir. Akhirnya ia menemukan jawaban itu. Ia balas sms dari sahabatnya itu. “Oke aku ikut”. Jawaban singkat itulah yang akhirnya muncul. Dia tak tahu, dari mana datangnya jawaban itu. Tapi yang jelas, mungkin inilah salah satu bentuk tindakan yang bisa ia lakukan untuk membalas kebaikan para sahabat-sahabatnya itu. Walau ia tahu, bahwa hal itu sangat bertolak belakang dengan dirinya sendiri. Dan kembali lagi ia dapati kenyataan yang menyakitkan. Di mana sering sekali bahwa idealisme sangat bertentangan dengan realita. Ironis.
Jam pun telah menunjuk ke arah jam 7. Setelah sholat isya’ Budi pun bersiap untuk memenuhi ajakan sahabat-sahabatnya tadi sore.
BEK130592

BUNGA



Beberapa bulan yang lalu saya pernah mengirimkan sms kepada salah seorang teman saya. Dia adalah teman sekelas SMA dulu. Sekarang nasibnya lebih beruntung di bandingkan denganku. Ia berkesempatan untuk meneruskan study-nya ke kota di mana aku pernah bermimpi untuk bisa kuliah di sana. Kota Malang. Sebenarnya dulu kami berdua juga sama-sama diterima di sana melalui jalur tes yang sama pula. Namun, karena ternyata biaya yang selangit, aku harus merelakan impian itu. Dan alhasil, lagi-lagi aku harus menetap dan belajar di kota di mana aku di lahirkan. Tulungagung. Menjadi mahasiswa Perguruan Tinggi Islam di kota sendiri, mungkin bukanlah sesuatu yang selama ini aku impikan. Tapi, memang terkadang hidup ini harus bangun. Tak selamanya kita bisa berjalan di atas mimpi kita. Terkadang kita harus terbangun dengan cara terjatuh. Dan ketika itu terjadi, maka kita harus siap dengan segala sesuatu di dunia nyata kita. Kita harus Realistis. Dan itu harus kita lakukan. Siap atau tidak siap.
Entah kenapa, ketika itu rasanya begitu membosankan. Segala hal terasa sangat mencekik dan menjenuhkan. Lagu yang biasanya menjadi penenang, kini berubah menjadi alunan kematian bagi logika. Mentari yang sebelumnya menjadi penerang hati, justru berubah haluan: menghitamkan kejernihan kalbu.
Tiba-tiba mataku bergerak, melirik benda mungil yang sejak tadi tak beranjak dari meja di sampingku. Lekas aku ambil benda itu. Kembali aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Tiba-tiba jemariku bergerak menuliskan sebuah pesan: “Assalamu’alaikum”. Lagi, hal yang sama terjadi: aku tak tahu apa yang harus aku lakukan setelah melakukan sesuatu. Spontan ibu jariku memencet sebuah nama di kontak HP. Sebuah nama yang tak asing. Sebuah nama yang rasanya begitu istimewa. Iya, dialah Bunga.
Aku kirim pesan itu kepada dia. Pesan yang cukup diplomatis. Satu kata yang mempunyai makna mengagumkan. Satu kata berbunyi: “Assalamu’alaikum”. Sms-pun terkirim. Namun, aku seperti orang yang kehilangan arah. Bingung. Kenapa aku mengirim sms itu? Dan kenapa sms itu aku kirim kepada Bunga? Entahlah! Rasanya begitu menyakitkan jika harus mengingat satu nama ini. Nama yang dulu menjadi penerang kalbu sekaligus nama yang teristimewa di hati, kini menjadi mata pisau yang tajam yang menusuk tepat di ulu hati ini. Namun, anehnya adalah hati ini tetap mengharapkan nama itu bisa kembali menjadi penerang kegalauan rasa ini.
Lama detik berlalu bersama kegalauan yang tiba-tiba aku rasakan. Namun, waktu ternyata tak mengijinkan aku untuk terlalu lama hanyut dalam kegalauan. Dan hal itu terbukti dengan getaran yang aku rasakan di tanganku, yang dari tadi memegang HP. Aku lihat ternyata sms masuk. Begitu terkejutnya aku ketika aku buka, ternyata Bunga membalas sms-ku. Ini adalah hal yang sangat langka. Setidaknya untuk beberapa bulan terakhir. Iya, memang dalam beberapa bulan terakhir saat aku sms Bunga, dia jarang atau bahkan tidak membalas sms-ku sama sekali. Aku tak tahu apa yang terjadi. Apakah ini karena dia telah mempunyai pacar? (Menurut berita yang sempat terdengar oleh telingaku, dia baru saja jadian dengan seorang teman kami waktu SMA dulu). Ataukah ini karena ia sangat sibuk dengan kuliah dan bisnisnya? Ataukah ini karena dia memang sudah melupakan saya secara perlahan namun pasti? Entahlah. Aku tak ingin dipusingkan dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Aku hanya ingin optimis bahwa Bunga adalah jodoh yang selama ini aku cari dan aku nanti. Dan saat ini rasa optimisku bertambah seiring balasan sms darinya.
“Wassalamu’alaikum. Bagaimana kabarnya?” Cukup terkejut aku membacanya. Dia menanyakan kabar tentangku.
“Alhamdulillah baik, bagaimana dengan kamu? Tidak mudik kah?”
“Alhamdulillah baik juga. Tidak, mau mudik rasanya males sekali.”
Begitu bahagia aku membaca dan membalas sms darinya. Sepertinya aku telah menjadi orang gila. Bagaimana tidak, aku tertawa sendiri, senyum-senyum sendiri. Memang, cinta telah membuat kita menjadi gila dan buta.
Aku balas sms darinya, walau cukup sulit aku mencari kata-kata yang tepat untuk membalasnya. “Kenapa? Kan libur cukup lama, 3 hari lho.”
“Iya sih.. tapi Bunga lagi galau, jadi ya males mau mudik. Hehehe.”
“Wah galau? Galau kenapa? Punya pacar baru kok masih galau? Hehe.”
“Haha galau karena hal lain.”
Jawaban yang singkat. Rasanya kebahagiaan yang kurasakan hanyalah numpang lewat saja. Sms singkat itu telah merusak dan menenggelamkan kebahagiaan itu ke dasar laut.
“Owh… By the way kok belum tidur jam segini?” Terpaksa aku menanyakan hal itu, karena aku sudah bingung, kata-kata apa yang harus aku keluarkan lagi agar komunikasi ini tak terhenti.
“Belum… ini masih berperang dengan setumpuk masalah. Hehe.”
“Masalah apa? Kok sampai bahasanya puitis begitu? Hehe.”
Lama aku terdiam dengan tetap memegang HP. Menunggu balasan sms dari Bunga. Setidaknya dia menjawab pertanyaanku itu. Dan mungkin aku harus gigit jari akan harapanku. Ribuan detik terlewati, tak kunjung juga ia membalas sms-ku. Entah siapa yang harus aku salahkan. Apakah pikiran ini yang harus aku salahkan, karena tak mampu merancang kata-kata indah untuk Bunga? Ataukah waktu yang harus aku hokum, karena ia berjalan terlalu cepat untuk sebuah jawaban sms? Ataukah memang hati ini yang harus aku bunuh, karena tak mampu berpaling dan melupakan dia?
Mungkin semua pertanyaan di atas memang benar adanya. Dan memang akulah yang harus mencari jawaban dari semua pertanyaan di atas. Namun, jawaban yang selalu aku berikan adalah sama: optimis akan keyakinan yang aku miliki. Dan keyakinan itu adalah Bunga.

BEK130592