Translate

Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Agustus 2013

PENIKMAT CERMIN



Wahai engkau si penikmat cermin,
Tetapkah engkau mendewakan cerminmu?
Akankah engkau membawa cermin hingga matimu?
Dan masihkah engkau bercermin?
Padahal engkau sangat memusuhi dusta,
Dan tahukah engkau, siapa pendusta itu?
Wahai penikmat cermin,
Sesungguhnya pendusta itu amat dekat denganmu,
Walau memang tak sedekat urat nadimu,
Namun pendusta itu teramat sering menjumpaimu,
Tak hanya menjumpai, namun kalian juga selalu bercumbu, kala bertemu
Entah engkau sadar atau tak sadar,
Senantiasa engkau di tipu oleh keindahannya.
Itulah dia, yang mengubah nyata menjadi maya,
Yang merubah depan menjadi belakang,
Dan yang membuat kanan menjadi kiri,
Ialah penipu, penipu bagi yang mencumbuinya,
Penipu yang tak pernah berdosa,
Dialah penipu sejati, wahai penikmat cermin.

BEK130592

Rabu, 14 Agustus 2013

BIDADARI BUMI



Bidadari-bidadari berjalan,
Engkau adalah pelita bagi hidup.
Penerang hati yang menggalau,
Galau karna tak ada cinta,
Bukan cinta dari sang kerabat,
Melainkan cinta dari seorang tambatan hati.
Engkaulah pahlawan wahai bidadari bumi.
Penolong berbagai hati yang menggalau.
Namun, kini langkahmu mulai tak setegar dulu kala,
Jalanmu kini amat tertatih.
Terserimpung dengan budaya,
Budaya yang sebenarnya mendamaikanmu,
Namun sejatinya justru meresahkanmu.
Wahai bidadari bumi,
Janganlah engkau bertelanjang di bumi ini,
Ingatlah bidadari, kau adalah bidadari,
Kecantikanmu kian tampak dengan budaya,
Budaya yang dulu sangat melekat pada diri ibu pertiwi,
Budaya muslimah nan sahaja negeri ini.

BEK130592

Kamis, 03 Januari 2013

Anomali Perasaan

ANOMALI PERASAAN

Indah,
Mungkin kata itulah,
Kata yang tepat buat insan sepertimu.
Kecantikan parasmu,
Keelokan senyum dan tingkahmu,
Kedamaian sorot matamu,
Kesempurnaan hatimu,
Keanggunan pribadimu,
Dan semua tentangmu.
Tak ada kata lain, selain indah.
Bahkan,
Hangatnya mentari, tak sehangat dekapanmu
Eloknya langit malam, tak seelok parasmu
Lembutnya sutera, tak selembut tutur katamu
Sinar berlian pun tak seterang sinar jiwamu
Engkaulah,
Terang dalam segala gelapnya hidup
oasis di tengah keringnya gurun pasir
Kehangatan di tengah dinginnya badai salju
Kehidupan di tengah gersangnya jiwa.
Namun,
Tak selamanya air itu jernih,
Mentari pun tak selalu menghangatkan,
Malam pun tak selalu bertabur indahnya bintang,
Jalanan pun tak selalu lurus nan halus,
Begitu pun kamu,
Engkau bukanlah malaikat yang selalu indah,
Juga bukan nabi yang terjaga dari dosa,
Putih pun sekarang jadi hitam,
Terang pun berubah gelap,
Kedamaian, keelokan, kehangatan,
dan semua keindahan dirimu,
kini menjadi derita bagi hati ini.
Keindahan tentangmu seakan mengkristal,
Membentuk tombak berlian nan tajam,
Dan anehnya, ketajaman itu justru menusuk ulu hati,
Hati yang senantiasa mengagumi.
Alangkah hebatnya dirimu,
Menyatukan keindahan dan kesakitan di satu tempat,
Yakni sebuah singgasana kecil yang slalu membesarkan keindahanmu,
Dialah hatiku.
Sakit, kecewa, marah, atau apa? Entahlah!!!
Yang jelas tak satu pun rasa tertinggal dalam hati ini,
Kosong!!!
Tapi, hanya satu hal yang pasti
Keindahan dan kesakitan yang kau beri, yang tlah melebur
Melebur menjadi sesuatu, yang menggundahkan jiwa
Namun,
Kamu tetaplah kamu,
Yang akan selalu indah di dalam hati ini,
Selalu menjadi ratu jiwa ini,
Itulah kamu,
Ratu bermahkotakan berlian nan mulia,
Bersinggasana emas bertabur cahaya,
Berkuasa di dalam jantung hati ini,
Selamanya.
Terima kasih untukmu,
Seorang yang ahli dalam keindahan dan kesakitan,
Seniman ulung dalam permainan hati.
Teruslah tinggal di lubuk hati ini,
Merajut keindahan dunia hati,
Membangunkan indahnya mimpi,
Hingga saatnya nanti.
Saat di mana kamu kembali dengan keindahanmu,
Dan bersemayam di relung hatiku.
Walau ku tahu, itu ibarat menggenggam air dari langit.
Tapi, impossible is nothing.
Entahlah, Tuhan Yang Maha Mengetahui. (inilah kalimat mujarab pelipur jiwa)

Pahlawan Cangkul

“PAHLAWAN CANGKUL”
Dendangan burung pagi, alunan serangga subuh,
mereka adalah pengiringmu.
Hentakan cangkul mencengkram bumi adalah sohibmu.
Badai, terik, tak pernah engkau hiraukan,
meski badan kurus tak terurus,
kaupun enggan tuk berhenti.
Itulah kamu,
acuh dan tak mau malu dengan keadaan,
keadaan bangsamu.
Tapi,
Bangsamulah yang harus malu,
malu melihat kepahlawananmu, kegigihanmu,
malu karna tak pernah membelaimu.
Ia terlalu sibuk dengan dunianya,
terlalu repot dengan qarunnya.
Padahal,
kamulah nyawa bangsa ini,
kamulah pencipta energi bagi mereka,
kamulah pahlawan.
Pahlawan tanpa peluru, tanpa tinta,
cukup cangkul ajaib, peganganmu.
Engkaulah pahlawanku, kaulah.
Teruslah berirama dengan sohibmu.
Walau dunia acuh padamu,
Tapi Sang Esa tak pernah menjauhimu.
Petaniku, pahlawan cangkulku.